Tuesday, May 3, 2016

DISKUSI ANAK SD

OM SWASTIASTU.

Sebelum saya lanjut menulis cerita pendek ini saya minta maaf kepada teman-teman karena saya kurang sering buka web, disebabkan oleh sesuatu yang tidak saya bisa wakilkan. Namun saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang selalu mengikutinya. Pada kesempatan ini saya akan mencoba bercerita tentang pengalaman saya di rumah mungkin ada manfaatnya bagi teman-teman. Bila hal ini dianggap tidak berguna saya akan minta maaf. Sebab tulisan ini saya gunakan sebagai penyambung tali pertemanan saja. Semoga Tuhan merestui apa yang saya tulis ini. Demikian pula saya merasa sangat terhormat bila saudara-saudara mau membaca tulisan ini apalagi mau meberikan saran untuk itu.

DISKUSI ANAK SD.

Hari Minggu yang baru lalu, semua cucu saya baik yang SD, TK, maupun yang SMP, kumpul di rumah. Entah apa yang mengawalinya, saya dengar mereka berdiskusi ala mereka tentang Perhiasan terbuat dari Emas. Mungkin pengalamannya di waktu hari Suci Galungan yang baru lalu. Sedang asyiknya mereka saling sahut menyahut dikalangan mereka, entah apa pemicunya saya kurang memperhatikan. Sehingga diantara mereka ada yang menangis.

LENGKAPNYA BEGINI;

Mereka membahas perbedaan antara perhiasan itu baik yang disebut kalung, cincin, gelang, bunga dan sebagainya, ada yang ingin menjadi bunga karena letaknya di kepala, ada yang ingin menjadi cincin yang letaknya di jari. Jadi mereka memilih atas dasar letak dan bentuk, maka sampai ada yang mengatakan ; "Silahkan kamu jadi kepala, kalau tidak ada leher mau apa kepala?" Yang senang gelang mengatakan; "Silahkan ada leher dan ada kepala, namun tidak ada tangan dan kaki mau bilang apa kamu?". Demikian selanjutnya. Mungkin perbedaan pendapat itu yang memicu jadi pertengkaran, dan selanjutnya ada yang sampai menangis.

Nah datanglah salah satu dari Bapak mereka yang kebetulan menjadi Pemangku, menjelaskan dengan nada dan intonasi bahasa yang lembut, dan memberikan contoh sesuai dengan porsi kemampuan mereka, antara lain begini kata pemangku itu; " Aduuuh anak-anakku yang cakep-cakep, kenapa ada yang menangis sayang? Setelah itu si anak-anak semua mengajukan pendapat berdasarkan argumentasi dari mereka masing-masing mempertahankan kebenaran mereka masing-masing.

Lagi si Pemangku mejelaskan dengan pelan-pelan; "Anak-anak, memang diantara perhiasan itu semua berbeda, sebab makna, fungsi dan posisi dari masing-masing perhiasan itu yang menyebabkan adanya perbedaan tersebut karena ada perbedaan bentuk dan tempatnya. Bila kamu memperdebatkan tentang perbedaan bentuk - bentuk dan perbedaan posisinya, selama matahari terbit dari ufuk timur tidak akan ketemu persamaannya. Walaupun sebenarnya dari semua perhiasan itu ada persamaannya, kalau sudut pandang kamu hanya dari sisi bentuk dan posisinya itu tetap berbeda, namun mari kita cari persamaannya!!! Persamaannya adalah perhiasan itu sama-sama berbahan Emas, Sayang. Coba kamu lihat, kalung itu terbuat dari emas bukan? Gelang juga terbuat dari emas bukan? Demikian juga yang lainnya."

Pada akhir kata Pemangku itu mengatakan marilah kita mencari kesamaan diatas semua perbedaan agar kita dapat merasakan kedamaian di dalam hidup ini. "Untuk apa kita selalu mempertengkarkan perbedaan seperti itu, selain menguras tenaga, energi dan menguras pikiran. Saya tahu kamu baru setingkat SD. dan TK. Tetapi janganlah bertengkar karena perbedaan ya sayang?" Demikianlah nasehat si Pemangku, yang saya dengar. Mengakhiri nasehatnya Pemangku juga berkata begini; "ANAK-ANAKKU JANGANLAH KAMU BERKEINGINAN ORANG LAIN AGAR SEPERTI DIRIMU YA. Andai kata ada orang lain mengikuti jejakmu jangan dilarang, sebaliknya bila orang lain tidak mau bahkan bertentangan dengan pendapatmu jangan marah, apa lagi sampai bertengkar, sebab manusia semua memiliki hak asasi, mereka menentukan nasib mereka ke depan, dan mereka juga yang paling berhak menasehati diri mereka sendiri. Akhirnya semua anak terdiam, mungkin walaupun mereka setingkat TK dan setingkat SD. namun memiliki daya tangkap yang cemerlang, lalu yang menangis jadi tertawa, dan mereka saling berpelukan. Sambil mengucapkan Santhi, Santhi, Santhi.

Setelah Pemangku itu meninggalkan tempat diskusi anak-anak tadi, saya berpikir; benar juga nasehat dari Pemangku itu, walaupun si Pemangku tidak menasehati saya secara langsung namun saya merasakan mendapat sesuatu yang amat berguna. Terima kasih atas perhatiannya, kurang lebih mohon maaf.

Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om.

No comments: