Tuesday, July 2, 2013

KENAPA KITA SEMBAHYANG PAKAI BUNGA?

Om Swastiastu,

Kelihatannya sangat sepele sekali, namun masih banyak dikalangan kita umat Hindu belum tahu maknanya sehingga sering menjadi pertanyaan. Dari seringnya muncul pertanyaan tersebutlah dapat ditarik satu kesimpulan bahwa masih banyak umat kita yang belum tahu walaupun mereka telah dari lama menggunakan "BUNGA" sebagai salah satu sarana persembahyangan. Dengan demikianlah saya tertarik untuk menulisnya disini, semoga saudara-saudara mendapatkan sekilas gambaran tentang makna bunga sebagai sarana upacara dan sekaligus sebagai sarana persembahyangan. Saya tahu sudah ada diantara saudara telah tahu dan faham tentang makna bunga, namun tulisan ini hanya bagi saudara yang masih memerlukan.

Berbicara tentang bunga dapat dimaknai dari berbagai sisi, antara lain; dari sisi baunya harum merupakan bau yang paling disenangi, dicintai oleh manusia, sehingga bunga disebut sebagai simbul bhakti (cinta) kehadapan Tuhan. Ada yang memaknai dari sudut warnanya, diidentikan dengan warna dari Nawa Dewata, sehingga bungan disebutkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan melalui manifestasinya. Ada pula yang mengatakan bahwa bunga itu cikal bakal dari buah, buah itu adalah pahala, sehingga bunga disebut sebagai sebuah sarana untuk mempercepat proses kita mendapatkan pahala dari karma kita. Dan lain sebagainya, semuanya itu menurut saya tidak ada yang salah. Kadang-kadang bunga itu digunakan juga oleh saudara kita yang beda agama, sesuai dengan kepentingan mereka. Dengan demikian saya dapatkan satu makna bunga yang jarang bahkan belum ada yang pernah menyinggungnya, melalui sebuah cerita pendek dari guru pembimbing saya sejak saya belum menjadi seorang Pedanda, ceritanya begini;

Ada sebuah keluarga kecil yang terdiri Ayah, Ibu dan dua anak laki. Anak yang tuaan bernama Si Hitam, dan yang kecilan namanya Si Putih. Kedua anak kakak beradik ini karakternya sangat berbeda sehingga mereka diberi nama yang kelihatan berlawanan, yaitu Hitam, dan Putih. Singkat cerita, dirumah itu memang ada benda warisan satu batang pohon bunga mawar merah. Entah bagaimana asal mulanya si Putih sangat sayang pada pohon mawar itu, dipeliharanya, dikasih pupuk, dikasih air, dibersihin dari daun-daunnya yang sudah kering, namun si Hitam sama sekali tidak mau tahu, menganggap adiknya kurang pekerjaan. Bahkan si Hitam kadang kadang entah sengaja atau tidak mematahkan dahan mawar itu, pokoknya si Hitam memperlakukan pohon mawar itu dengan sembarangan.

Lanjut ceritanya, setelah beberpa bulan lalu mawar merah itu berbunga dua kuntum, warnanya sangat menarik, kuntum bunganya besar, baunya wangi, lalu si Putih memetik bungan mawar itu dengan sopan, sebelum memetik dia ngomong sendiri seolah-olah ngomong sama pohon mawar begini dia: MAWAR AKU MINTA BUNGAMU SATU YA, NANTI KAU BERBUNGA LEBIH LEBAT LAGI. Demikian antara lain omongan si Putih, itu juga dia lakukan setiap dia menyiram sambil ngomong sama pohon mawar itu mencurahkan rasa cinta kasih dan bangganya terhadap tumbuh-tumbuhan. Setelah ngomong begitu baru dia memetik bunga mawar itu, diciumnya bunga itu baunya harum sekali.

Kemudian beberapa jam lagi datang si Hitam, melihat bunga mawar yang indah lalu dia memetik tanpa ba, bi, bu, langsung dipetiknya secara kasar, setelah dipetik bunga mawar itu lalu dia cium, dia merasakan bau yang sangat wangi, sama dengan bau yang dicium oleh adiknya tadi. Demikianlah cerita singkat dari guru saya. Lalu Beliau menyimpulkan bahwa bunga itu memberi kita contoh pendidikan yang amat dalam yaitu, walaupun mereka ada yang menyayangi dan ada pula yang membencinya, namun pada saatnya si bunga akan memberikan sesuatu yang sama kepada kedua belah pihak, si bunga tidak membeda-bedakan antara yang menyayangi dengan yang membencinya. Makna seperti inilah yang patut kita tangkap dan kita pelajari untuk merubah sikap kita mengikuti sikap bunga, memang hal ini tidak semudah membalikan telapak tangan, namun kita terus berusaha kearah itu, demikian pesan yang amat dalam disampaikan kepada kita oleh para leluhur kita pesan yang terbungkus rapi, maka kita sekarang perlu membukanya untuk kepentingan kita bersama dijaman seperti ini.

Sebuah teori itu sangat perlu, namun jangan mentok pada teori, teori itu kita harus praktikan sedikit demi sedikit, sehingga lama kelamaan kita tidak akan sadar sudah biasa melakoninya. Demikanlah sebagi tambahan makna bunga yang digunakan oleh umat Hindu di saat berupacara.

Perlu saya tekankan disini bila saudara ingin sembahyang ke Pura, bawalah perlengkapan sembahyang dengan lengkap sesuai keperluan sembahyang.

Jangan baru sampai di pura kita cari bunga, tengok kanan-tengok kiri, kadang-kadang canang di banten teman kita diambil bunganya untuk sembahyang, itu salah, kalau kita ngambil bungan canang dari banten yang belum dihaturkan (sukla), berarti kita merusak banten yang masih sukla itu besar dosanya, kalau kita ngambil bunga dari canang yang sudah dihaturkan (surudan), berarti kita sembahyang memakai bunga bekas. Disamping itu sangat kelihatan sekali kita sembahyang penuh dengan ketidak ikhlasan, karena tidak menyiapkan diri menghadap Tuhan.

Dan satu lagi, kalau saudara sembahyang di pura mana saja, setelah selesai sembahyang tolong ambil bunga, kwangen, dupa bekas dipakai sembahyang, taruh di tong sampah yang tersedia, kalau tidak ada tong sampah disediakan di pura, bawa saja pulang nanti di tong sampah dirumah taruh, agar pura tempat suci kita tetap terjaga kebersihannya.

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM.

No comments: