Wednesday, June 24, 2009

Hidup Yang Serba Instan

Om Swastyastu
Salam Kasih

Di koran koran, di TV, di radio-radio, sungguh mudah sekali untuk menemukan berita-berita tentang bagaimana ketidaksabaran manusia-manusia modern telah membuat persoalan sepele menjadi berat.

Ada kejadian tentang bagaimana seorang pengendara motor menjadi begitu tidak sabar terhadap pengemudi mobil didepannya dan kemudian mengumpat dan menganiaya pengemudi tersebut hanya karena sang pengemudi agak terlambat bereaksi ketika lampu hijau menyala. Ada cerita tentang seseorang yang menjadi korban penipuan dukun pengganda uang hanya karena orang itu tidak sabar untuk segera menjadi kaya. Ada banyak cerita tentang ketidaksabaran yang membawa sengsara.

Bila kita coba menelusuri dimanakah hulu dari segala ketidaksabaran itu berasal, mungkin salah satunya adalah kecenderungan serba instan yang melanda kehidupan kita selama ini.

kecenderungan serba instan yang memangkas habis kemampuan untuk bersabar ini tampak jelas melalui iklan-iklan di TV, di koran-koran, di radio, dan juga melalui kemajuan teknologi yang semua itu berlomba-lomba menawarkan solusi serba instan kepada kita.

Para produsen minuman menawarkan minuman serba instan dan tidak lupa-tentu saja-diklaim tetap alami, dan kualitas no.1. Para produsen obat-obatan menawarkan obat flu, obat sakit kepala, obat batuk yang katanya mampu menyembuhkan penyakit seketika diminum, langusng bles ewes.....ewes....ilang penyakitnya.

Para paranormal di koran-koran dan tabloid kuning, dengan penuh percaya diri menawarkan solusi serba instan terhadap semua masalah dunia, seakan-akan tiada masalah yang tidak dapat mereka tangani: mengatasi lemah syahwat, cinta ditolak dukun bicara, memisahkan suami/istri dari WIL/PIL, jimat kekebalan, jimat pengelaris, jimat keperkasaan, pelet, susuk bertuah, bahkan sampai belajar kerohanian instan pun saat ini sudah ada dagangnya,.....untuk mengatasi segala masalah keluarga Anda..........

begitu merasuknya kecenderungan serba instan ini ke dalam setiap sel-sel otak kita, ke dalam setiap pori-pori kesadarn kita, hingga membuat kita tanpa sadar mulai menyepelekan proses. Memandang remeh tahapan-tahapan yang harus kita lalui dalam kehidupan ini. Kita mulai terbiasa untuk menjadi tidak sabar, sebab kesabaran yang kita miliki tak pernah terarah dalm kondisi serba instan ini.

Jadi bukan hanya ada mie instan
Dan jangan-jangan kita adalah termasuk orang yang sudah tidak sabar lagi manata hidup dan meniti kehidupan ini dengan bijak....?


Damai selalu

Shri Danu

No comments: