Wednesday, January 20, 2010

Kedamaian bukanlah keyakinan yang disimpulkan melalui penalaran

Om Swastyastu-Salam Kasih

Disiplin diri (Sadhana) merupakan landasan utama bagi kehidupan yang sukses. Hanya melalui disiplin dirilah manusia dapat memperoleh kedamaian yang nyata dan langgeng. Tanpa kedamaian tidak mungkin ada kebahagiaan. Kedamaian merupakan sifat Atma. Ia hanya dapat berada dalam hati yang murni; kedamaian tidak pernah berhubungan dengan hati yang serakah, penuh keinginan dan nafsu. Kedamaian merupakan cirri khas yang membedakan para yogi, resi dan orang-orang yang telah mencapai penerangan bhatin. Ia tidak tergantung pada keadaan luar. Kedamaian akan menjauhkan diri dari orang-orang yang penuh hawa nafsu. Orang-orang semacam itu tidak disukainya. Kedamaian merupakan ciri khas Atma yang berada dalam bhatin kita, mengagumkan, tidak tergoyahkan, dan permanen.

Kedamaian mengangkat hidup rohani kita, menganugrahkan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan secara wajar mendatangkan kebahagiaan. Meskipun demikian hanya ada satu cara untuk mencapai kedamaian sejati; dengan mengendalikan indera. Hanya setelah itu kedamaian dapat disebut Prasantih. Pada tahap kedamaian dihayati sebagai aliran ketenangan. Dengan menenangkan keresahan mental yang menggelora seperti gelombang, dengan meratakan pusaran serta pergolakan rasa suka, tidak suka, cinta, benci, sedih, gembira, harapan, dan keputusasaan, maka kita akan dapat memperoleh kedamaian dan mempertahankannya tanpa gangguan.

Kedamaian mempunyai sifat yang sama dengan Atma. Atma tidak dapat binasa. Ia tidak mati seperti halnya tubuh dan pikiran. Atma itu universal, halus, dan sifat sesungguhnya adalah pengetahuan, maka kedamaian juga memiliki sifat-sifat khas ini. Pengetahuan Atma melenyapkan ilusi, kesangsian, dan kesedihan. Karena itu penghayatan Atma memberikan kedamaian yang paling mantap, kesucian, dan kebahagiaan.

Atma bukanlah objek pengetahuan, melainkan asal dari sumber pengetahuan. Jnana menujukkan jalan menuju kematangan, keberhasilan, kebebasan, keabadian, kebahagiaan kekal, dan kedamaian yang langgeng. Orang yang dihanyutkan oleh tarikan atau desakan indera tidak akan mencapai Atma. Brahman adalah Yang Maha Esa, tidak berubah di dunia yang selalu berubah ini. Atma tidak terpengaruh oleh perubahan lahiriah, transformasi, maupun modifikasi. Kesemarakan tubuh bukanlah Atma, karena sesungguhnya Atma tidak dapat didefinisikan, tidak dapat dilukiskan. Atma bukanlah ini atau itu. Atma hanya dapat dikatakan sebagai dirinya sendiri, Sang Brahman ‘Tuhan Yang Maha Mutlak’. Brahman mewujudkan diri sebagai kebenaran (sathya), kasih sayang (prema), cahaya (paramajyotir), kedamaian (santih), pengetahuan kesunyataan (jnana), dan kebahagiaan tertinggi (parama-ananda). Melalui salah satu jalan inilah kita dapat mencapai Tuhan; hal ini tidak perlu kita sangsikan, karena ini adalah kebenaran.

Atma bukan panca indera, budhi, prana, ataupun daya hidup, ia hanya dapat digambarkan sebagai apa yang bukan dia, bukannya sebagai apa yang sesungguhnya. Tidak seorang pun dapat menyatakan bahwa Atma itu demikian dan sebagainya. Jika ada seseorang yang menyatakan bahwa Atma itu demikian, atau Atma itu begini atau begitu, kita dapat beranggapan bahwa ia tidak tahu sedikit pun mengenai Atma. Kita dapat berbicara banyak mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui, kita dapat menganggapnya apa saja atau memberinya nama apa saja. Singkatnya, Atma tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, mustahillah menggambarkannya, siapa pun juga yang mungkin mencoba.

Kebahagiaan merupakan sifat pembawaan manusia. Namun sayangnya manusia mencarinya di tempat lain, dan justru bukan di tempat yang sebenarnya. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mati atau non aktif. Ia merupakan nama lain dari kehidupan yang pebuh makna. Kebahagiaan hanya ada bila kedamaian berkuasa dan menetapkan aturan serta pembatasan untuk segala kegiatan. Kedamaian harus dibuat demikian stabil sehingga tidak terpengaruh oleh pikiran yang senantiasa ngelantur ataupun indera yang cenderung mengarah ke dunia luar. Kedamaian hanya dapat dihayati secara pribadi, melalui (kesadaran) yang telah mencapai jnana. Manusia yang memahami Atma yang abadi, tidak dapat binasa, dan tidak berubah, akan menikmati kedamaian, harta yang paling bernilai. Ia pun (kesadaran dirinya yang sejati) tidak akan mati.

Kedamaian adalah samudera tanpa tepi, cahaya yang menerangi dunia. Kedamaian memberikan pengetahuan dunia akhirat. Kedamaian membawa manusia pada penghayatan Brahman (Tuhan Yang Maha Mutlak). Inilah penyempurnaan kehidupan manusia yang diajarkan oleh Vedanta (Saripati dari Veda).

Kasih murni hanya dapat memancar dari hati yang diliputi kedamaian karena hal ini merupakan suasana yang meresapi (segalanya) dan memurnikan. Kedamaian bukanlah keyakinan yang disimpulkan melalui penalaran. Ia merupakan disiplin dari semua kehidupan yang disiplin. Pada waktu lahir pikiran manusia dapat dimisalkan dengan sehelai kertas putih yang kosong. Segera setelah ia mulai berpikir, merasa, dan melakukan kegiatan, proses pencemaran pikiran pun dimulai. Tubuh tergantung pada prana; ia tergantung pada pikiran, perasaan, serta berbagai keinginan yang meresahkan hati. Kebajikan dan kebenaran dipudarkan oleh tuntutan tata karma, mode, adat, kebiasaan, dan sebagainya, dan individu dicampakkan ke dalam kelompok manusia. Kesendiriannya dilanggar dan direnggut.

Karena itu pertama-tama pikiran harus ditenangkan dan diheningkan. Hanya dengan demikianlah tubuh dapat menjadi sehat dan akal menjadi tajam. Pada suatu saat pikiran hanya dapat dipusatkan pada satu sasaran, tidak pada berbagai hal. Meskipun demikian pikiran atau ingatan merupakan kumpulan gagasan, keinginan, angan-angan, khayalan, dan sebagainya. Sesungguhnya dalam pikiran atau ingatan manusia terdapat sejarah seluruh ciptaan dalam bentuk singkat. Itulah cetakan yang membentuk khayalan manusia. Pikiran dan perasaan manusia merupakan medan pertempuran Kuruksetra (dalam kisah Mahabharata), tempat baik dan buruk, benar serta salah bertanding meraih keunggulan. Besi hanya dapat dijadikan lempengan bila ditempa dengan besi lain. Demikian juga pikiran yang keji dan rendah harus dibentuk menjadi lebih baik oleh pikiran kita sendiri yang lebih luhur. Kita harus membuat pikiran menjadi unggul, luhur, dan kuat bagi tugas perbaikan diri.

Teguklah dalam-dalam air dari alairan kedamaian tersebut, yaitu air disiplin yang ditunjukkan didalamnya; benamkan diri kita didalamnya hingga bersih…semoga kesejukannya menyegarkan kesedihan serta penderitaan dan memadamkan kobaran api dosa…..Om Namo Narayanaya.

(disarikan dari wejangan Bhagavan Sri Sathya Sai Baba; Prasanti Vahini)

Rahayu

Shri Danu

No comments: