Tuesday, November 24, 2009

Penemuan Manusia Antara Surga, Neraka, Bumi



(Perjalanan Atma, Mencari Bekal di Jalan Dharma)
sebuah tulisan dari sudarma (shri_danudp@yahoo.co.id)

SESAAT setelah badan jasmani mati, Atma melakukan perjalanan jauh. Cerita perjalanan Atma ada di banyak tempat, dalam berbagai kebudayaan, dan bermacam kepercayaan. Yang sama dari tiap cerita itu, Atma dikabarkan sengsara, kesepian, dan ketakutan. Walaupun perjalanan itu penuh penderitaan, tidak ada cerita Atma menunda perjalanan. Apalagi membatalkan. Sepertinya tidak ada pilihan lain bagi Atma kecuali melakukan perjalanan itu. Ia tak mungkin bertahan tinggal dalam tubuh yang segera akan membusuk. Bagian tubuh yang berasal dari tanah kembali menjadi tanah. Yang berasal dan air kembali menjadi air. Maka Atma mencari rumah baru. Pilihan ada dua, hanya dua menurut cerita : Surga atau Neraka.

Atma seseorang yang di dunia berkarma baik diyakini masuk Surga. Sebaliknya, yang berkarma buruk, dipastikan masuk neraka. Kepastian ini sebatas keyakinan. Karena mustahil membuktikannya. Baik Surga maupun neraka konon letaknya jauh di sana, entah di mana. Di mulut tukang cerita lihai, anak-anak sampai menangis mendengar kisah kesengsaraan Atma. Di tangan tukang cerita yang kurang berbakat cerita itu jadi rusak. Sebaliknya, tukang cerita humoris membuat orang terpingkal-pingkal mendengar perilaku Atma yang ternyata juga bisa lucu.

Banyak orang tidak mempercayai kebenaran cerita seperti itu. Tetapi orang yang meyakini kebenarannya, jauh lebih banyak lagi. Namanya juga keyakinan, pasti susah dibuktikan. Sekarang cerita perjalanan dalam bentuk buku. Sudah banyak pula diterjemahkan, dari satu bahasa ke bahasa lain. Sehingga menceritakan atau mendengarkan cerita Atma tidak lagi menakutkan seperti dulu sebelum listrik masuk desa. Sekarang banyak orang mendengarnya sambil makan kacang, minum bir dan goyang-goyang kaki. Tak jarang mereka tarpingkal-pingkal, karena yang sakral dari atma diceritakan dengan vulgar.

Disini, di Pulau Bali ini, orang mengenal cerita perjalanan Atma lebih banyak lewat pendengaran. Jadi, bukan karena membaca. Kenyataan ini berhubungan dengan lebih donminannya kebiasaan ngobrol daripada kebiasaan menulis dan membaca. Dalam salah satu fragmen kisah perjalanan Atma, diceritakan Atma menyeberangi sebuah jembatan oleng (titi ugal-agil). Dibawah jembatan oleng itu ada jurang menganga. Dari dasar jurang terdengar jeritan Atma yang terjatuh minta tolong.

Ratapan itu didengar oleh Atma yang sedang menyeberang. Makin ciut nyali Atma itu. Beberapa Atma nampak tertancap diruncing batu cadas yang seakan taringnya jurang. Beberapa lainnya tersangkut bergelantungan di ranting pohon pinggir jurang, dipatuk-patuk ular berbisa. Mereka adalah Atma yang gagal menyeberangkan dirinya. Karena berat membawa beban karma buruk selama hidup di dunia. Mereka terjatuh dan menjadi penghuni jurang. Disiksa bermacam binatang buas dan hawa dingin panas bergantian. Hanya karma baik menyebabkan Atma sukses melewati jembatan oleng itu. Atma yang berhasil, setelah melewati jembatan itu, konon akan menemukan jalan bercabang dua.

Cabang pertama berupa jalan bersih, aman, lestari, indah. Itu konon jalan menuju neraka. Sebaliknya cabang kedua, penuh duri, susah, penuh godaan, berbahaya. Konon itu jalan menuju surga. Diceritakan pada umumnya Atma bingung memilih jalan. Karena itu, keluarga yang masih hidup disarankan menasihati orang yang mati.

Di hadapan jenasah, yang hidup dilatih berpesan, agar Atma berani memilih jalan yang sulit Nasihatnya, jangan sekali-sekali tergoda oleh kemudahan sebuah jalan. Jalan yang mulus dan lancar-lancar saja sering menipu. Keluarga yang ditinggalkan ingin agar Atma orang yang mati langsung menuju surga. Karena surga sudah pasti lebih bagus daripada neraka Pengetahuan mereka tentang surga didapat dari bergaul dengan tradisi. Jadi, bukan pengalaman langsung. Karena sangat absurd, bila seseorang harus mati dulu hanya untuk tahu surga maupun neraka.

Tetapi di dalam dunia cerita, yang pasti berbeda dengan kenyataan, ada manusia super bisa jalan-jalan ke surga maupun neraka, tanpa harus mati terlebih dahulu. Contoh paling sering disebut-sebut, kisah perjalanan Dharmawangsa setelah istrinya (Drupadi) dan semua adiknya (Pandawa) mati. Setelah perang Bhatayuddha yang maha dahsyat, tinggal ia bersama seekor anjing. Bersama anjing setia itu ia naik ke surga barbadan manusia. Dalam pementasan wayang, tentu ia naik ke surga berbadan wayang. Ternyata adik dan istrinya tidak ada disana. Mereka sudah dimasukkan ke neraka karena kesalahan masing-masing. Ia pun lantas mengunjungi mereka ke neraka. Karena ia manusia suci, ke mana pergi kesucian mengikuti. Kesucian menjadi kekuatan menawan yang tinggi. Neraka kemudian ia ubah menjadi surga dan berhasil. Itulah salah satu contoh manusia yang bisa pergi ke surga ketika masih berbadan kasar.

Masih ada contoh manusia super masuk Surga tanpa mati terlebih dahulu, seperti dalam cerita rakyat Bali-Lombok, Cupak-Grantang. Bukan karena kesucian ia naik ke Surga, tetapi dengan menyatukan empat saudara mistis kelahirannya. Cerita ini banyak penggemarnya di luar "tembok istana".

Dahulu Tradisi dibedakan atas tradisi di dalam tembok istana dan tradisi di luar tembok istana. Bila Dharmawangsa datang dari negeri nun jauh di sana, Cupak datang dari dekat-dekat sini. Tampang mereka sangat bertolak belakang. Dharmawangsa berwajah Dewa. Cupak berwajah preman, rambutnya gondrong acak-acakan, tidak pernah disisir dan diminyaki. Matanya selalu marah karena sering mabuk. Cara berpakaiannya pun tidak umum. Keduanya mewakili kelompok dan paham tidak sama. Yang satunya elite yang satunya lagi jelata Yang satunya Shiwa, satunya lagi Bhairawa. Cerita Cupak memang tidak dikelompokkan dalam epos atau mitos, tetapi cerita rakyat.

Dalam dunia cerita, bukan hanya manusia super mengunjungi Surga. Raksasa pun diceritakan memasuki surga dengan masih mengenakan badan kasar. Pelukisan badan kasar raksasa memang sangat kasar. Perilakunya kasar. Bicaranya kasar. Makanannya pun yang kasar-kasar. Sangat bertolak belakang dengan para Dewa yang berbadan halus, berbahasa sopan, berperilaku adab, makanannya sari-sari, menghormati kaum lemah seperti bidadari, dan wanita surga. Bila Atma manusia datang untuk menjadi abdi di surga, raksasa datang untuk menggempur istana Dewa. Dalam banyak cerita, raksasa selalu bemafsu merebut kekuasaan dari tangan Dewa. Dewa yang tidak sudi mengotori tangan beliau dengan darah dan kekerasan, meminjam tangan manusia sakti yang beliau temukan di hutan pertapaan lewat utusan bidadari penggoda. Manusia pilihan Dewa pasti berhasil menyelamatkan surga. Karena tuntutan moral cerita. Raksasa harus kalah. Manusia harus berperang di jalan Dharma. Dan Dewa harus suci plus dihormati Tidak ada Dewa tidak suci. Manusia yang menolak berperang dihinakan dan dinistakan. Raksasa yang kalah perang dimatikan. Tetapi bagaimana cara raksasa datang ke Surga semasih berbadan kasar? Jawabannya tidak dapat diketahui dari dalam cerita. Mereka datang saja ke surga, seakan rumah mereka tidak jauh dari sana.

Surga dan neraka sekadar contoh dualisme yang paling sering disebut-sebut. Bila surga neraka tempat sesudah mati, lantas bumi tempat kita hidup sekarang ini apa? Tradisi menyebutnya “tempat dimana ada kematian”(mertyupada). Yang mematikan adalah Waktu (K├ála). Manusia lahir sebagai bayi di tempat di mana ada kematian. Itu masuk akal. Karena tiap yang lahir langsung terkena vonis mati oleh kehidupan. Hari dan tanggal eksekusi dirahasiakan. Karma baik adalah bekal yang akan menolong perjalanan Atma. Di sinilah agama menghadirkan dirinya sebagai pemandu hidup. Pada zaman seperti sekarang, agama tidak sendirian memandu hidup manusia. Muncul pemandu tandingan merebut kapling agama, seperti ideologi negara, ideologi pasar, dan sebagainya.Di banyak tempat, agama sebagai pemandu hidup telah ditinggalkan. Di lebih banyak tempat di dunia ini, agama sebagai pemandu makin dikukuhkan. Karena bumi di maknai tempat di mana ada kematian (mertyu pada), konsekwensinya pemandu (agama) pun pada saatnya nanti akan mati. Karena hanya di dunia di mana ada kematian ada kelahiran, maka konskwensinya akan muncul pemandu baru yang tidak harus agama. Lalu apa?

Karena kita akan mati, bumi ini tidak ubahnya sebuah titik persinggahan sementara. Sebuah titik yang sangat besar untuk mampu dijelajahi manusia seorang diri. Hidup seratus tahun akan terasa sangat membosankan bagi orang yang hanya mencari bekal hidup. Bagi yang mencari bekal mati, satu umur manusia konon terlalu pendek. Mungkin karena itu, pameo “aku ingin hidup seribu tahun lagi” lebih dikenal daripada puisi yang memuat kalimat itu. Bagi yang letih berkarma karena konteks sudah tidak mendukung, sering mengambil pilihan memaksa. Waktu mengakhiri pencariannya. Bunuh diri !

Dalam banyak cerita, bumi ditempatkan di bawah. Dewa atau bidadari yang pergi ke bumi secara sukarela maupun terpaksa, disebutkan turun ke bumi. Mereka berjalan melewati langit dan menerobos awan. Arjuna pun disebutkan kembali turun ke bumi, setelah menyelesaikan tugas menyelamatkan surga dari serangan raksasa, dan tentunya setelah usai menikmati limpahan anugerah sebagai pahlawan.

Penganut paham Samkhyadarsana, satu dari enam aliran filsafat Hindu, menempatkan bumi pada urutan paling bawah pada sistem tattwa yang mereka pakai memahami realita. Di atas bumi ada banyak realita yang tidak akan dibicarakan di sini. Bumi disebut realita paling bawah karena semua realita yang ada di atasnya. Dalam realita bumi inilah surga dan neraka diciptakan. Surga dan neraka adalah satu dari beberapa penemuan besar manusia bumi. Penemuan lebih besar adalah agama. Penemuan paling besar, sudah tentu. Tuhan.


No comments: