Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Thursday, November 12, 2009

Apakah semua orang Kristen pergi ke Sorga?

Ditulis atas inspirasi dari kehidupan serta tulisan Stephen Knapp

Sebuah Pesan Agar umat Hindu tak Mudah Meninggalkan Agamanya



Kebanyakan orang Kristen merasa bahwa mereka pasti pergi ke sorga hanya karena mereka percaya bahwa Kristus mati untuk dosa mereka. Hal ini adalah salah satu prinsip-prinsip dasar Kekristenan, yang merupakan gagasan yang dicetus oleh Paulus.

Sebagai seorang keturunan Yahudi yang terlahir dan dibaptis sebagai seorang Kristen, Stephen Knapp dengan serius belajar Teologi Kekristenan selama 20 tahun dari hidupnya. Menurutnya, kebanyakan orang-Kristen berpikir, dan beberapa bahkan berkata, bahwa sekalipun mereka tidak bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mereka yang penuh dosa, yang harus mereka perbuat hanyalah percaya akan Yesus dan bahwa Yesus telah mati untuk dosa mereka, dan mereka akan diselamatkan. Hal ini sangat sederhana. Maka ketika mereka membandingkan Kekristenan dengan agama-agama yang lain, mereka akan mengatakan bahwa agama Kristen adalah yang paling mudah dari pada agama lainnya. Terutama sekali mereka melakukan hal ini ketika berkhotbah pada pemeluk Hindu atau Budha untuk mengkonversi mereka menjadi Kristen.

Namun, kepercayaan akan Yesus dan penyalibannya yang mendasari ajaran Kekristenan saat ini adalah suatu hal yang sangat kontroversial. Tidak semua Injil-Injil yang beredar ketika Perjanjian Baru itu dikompilasi dan menyetujui bahwa penyaliban adalah satu tindakan tobat. Demikian juga jika anda benar-benar belajar tentang ajaran pemikiran elementer Yesus yang salah satu diantaranya adalah tidak membunuh dalam 10 ajaran Yesus. Tentunya hal ini adalah hal yang lebih sulit dari pada sekedar parcaya pada Yesus dan tentang penebusan dosanya.

Yang pertama orang perlu menyadari bahwa Yesus adalah seorang Yahudi yang pesan-pesannya terutama untuk orang-orang Yahudi. Dalam Matius (10.5-6), Yesus mengatakan kepada dua belas muridnya untuk pergi berkhotbah, tetapi bukan kepada orang non-Yahudi (nonjews), maupun kepada orang Samaria, tetapi pergi ke domba yang hilang di rumah di Israel. Hal ini menunjukkan kepada siapa pesannya disampaikan.

Demikian juga pada Matius (15.22-24), seorang wanita memohon kepada Yesus dan meminta kemurahan hatinya karena putrinya diganggu oleh setan. Tetapi Yesus berkata tidak satupun baik dia dan muridnya, yang adalah Yahudi, memintanya untuk mengutusnya pergi karena dia menangis. Jadi jelas bahwa Yesus datang ke dunia hanya untuk domba yang hilang dari Israel. Misinya hanya untuk membantu orang-orang Yahudi. Hanya karena permohonan yang sangat dari seorang ibu, Yesus akhirnya menyembuhkan putri si ibu tersebut. Jadi ini juga menunjukkan bahwa minat utama Yesus ada Bangsa Yahudi.

Namun, Bangsa Yahudi sepenuhnya menolak Yesus. Mereka tidak menerima keilahian Yesus sebagai juru selamat. Dan ketika ia disalib oleh bangsa Roma, hal ini mengindikasikan bahwa Yesus bukanlah mesias yang digambarkan di dalam ramalan kitab-kitab suci Yahudi. Meskipun begitu, orang-orang non-Yahudi menerima doktrin Kekristenan dan sekarang percaya bahwa mereka akan diselamatkan oleh darah dari Kristus, yang merupakan konsep yang digagas oleh Paulus. Anda tidak akan menemukan ajaran ini sebelum Paulus menyisipkan pemikiran dan tulisannya sendiri ke dalam Kekristenan.

Apakah semua orang Kristen akan pergi ke sorga? Jika anda belajar dan memahami Perjanjian Baru, Yesus meninggalkan perintah spesifik yang harus diikuti sebagai pintu masuk ke sorga. Dalam Matius (10.37), Yesus berkata bahwa jika siapapun mencintai dirinya atau ayahnya, ibu, putra, atau putri lebih dari dirinya tidaklah pantas memilikinya. Dan dalam Matius (15.4), Tuhan memerintah agar seseorang harus menghormati ayah dan ibunya, dan ia yang menghinakan ayah atau ibunya harus mati. Jadi Anda harus menghormati orang tua anda, tetapi tidak lebih dari anda mengasihi Yesus atau anda tidak akan memperoleh sorga.

Yesus juga menjelaskan dalam Martius (12.36) bahwa setiap kata-kata bohong yang dikatakan manusia akan dihitung pada hari pengadilan nanti. Jadi anda juga harus menjaga mulut anda dari kebohongan dan gosip. Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi sebagian besar orang. Kebanyakan orang yang mengaku Kristen yang saya kenal sama sekali tidak berusaha menahan kecenderungan ini. Lebih lanjut dalam Martius (16.23-28) Yesus menjelaskan bahwa setiap manusia harus mengekang dirinya dari keinginan atau kesenangan-kesenang an dan mengangkat salib dan mengikutinya jika dia benar-benar berkeinginan mencari kerajaan Tuhan. Hal ini tentu saja menunjukkan tidak saja keyakinan/keimanan yang harus dimiliki oleh orang Kristen, tetapi berapa banyak dia dapat mengekang dirinya dari nafsu dan keinginan dan mengangkat salib!

Dalam Matius (18.34-35), Yesus berkata bahwa Tuhan akan menghukum anda jika anda tidak mengampuni kesalahan setiap orang terhadap anda. Dan kembali pada Matius (25.35-46) kita menemukan bahwa diharapkan seorang Kristen yang baik harus memberi makan dan pakaian pada yang miskin, dan menerima tunawisma, meskipun mereka adalah orang asing, untuk sejumlah yang anda lakukan bagi mereka, anda juga melakukannya untuk Yesus. Dan jika anda mengabaikan seseorang, hal ini juga berarti anda mengabaikan Yesus, dan anda akan memperoleh hukuman kekal.

Sekarang kita dapat melihat bahwa persyaratan untuk bisa mencapai sorga tidaklah semudah yang dikira. Tetapi tunggu dulu, dalam Matius (19.20-30) dikatakan bahwa seorang manusia datang kepada Yesus dan ingin menjadi pengikutnya, tetapi Yesus berkata kepadanya agar pertama-tama menjual segala hal yang ia miliki dan memberikan uangnya kepada yang miskin. Namun, orang itu tidak bisa berbuat demikian dan dengan segera pergi. Yesus menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa lebih sulit bagi orang kaya untuk dapat masuk sorga; adalah lebih mudah bagi seekor unta untuk melewati lubang jarum. Lalu muridnya menjadi kagum dan bertanya, dalam kasus ini, siapakah yang dapat diselamatkan? Yesus menjawab bahwa segala sesuatu mungkin bagi Tuhan, tetapi mereka yang sudah meninggalkan rumah, ayah, ibu, istri, anak-anak, atau harta miliknya, tekun dalam memuji nama-Nya akan mencapai kehidupan kekal. Sehingga kesimpulannya adalah jika anda tidak bisa mengubah pola pikir, pandangan dan tingkah laku anda, maka meski anda mengaku Kristen, anda tidak akan mencapai sorga atau kehidupan kekal di sisi Tuhan.

Demikian juga dalam Lukas (6.20, 24-30), Yesus berkata diberkatilah yang miskin, karena mereka akan mencapai Kerajaan Tuhan, dan celakalah yang kaya, celakalah mereka yang berlebihan karena mereka akan lapar, dan celakalah mereka yang tertawa sekarang karena mereka akan berdukacita. Anda harus mengasihi dan berbuat baik pada musuh-musuh anda dan mereka yang benci anda, berikan pipi kanan jika mereka menampar pipi kiri anda, jangan melarang siapapun untuk mengambil mantel anda, dan jangan meminta kebaikan anda akan dikembalikan oleh orang yang pernah anda tolong/beri. (Hal ini merupakan perbedaan yang sangat besar dibandingkan dengan tindakan kaum misionaris yang dengan semangat gospel-nya telah membunuh atau menyiksa siapa saja yang menolak untuk menjadi Kristen.)

Dalam Lukas (9.61-62), terdapat kisah tentang seorang laki-laki yang datang pada Yesus dan meminta untuk mengikutinya, hanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya. Tetapi Yesus menolaknya dan berkata bahwa tidak ada manusia, yang menaruh kepalanya pada bajak dan melihat ke belakang yang sesuai untuk Kerajaan Tuhan. Dan dalam Lukas (9.59-60), Yesus menyuruh seseorang untuk mengikutinya, tetapi orang itu meminta Yesus agar pertama-tama mengizinkan dia menguburkan jasad ayahnya. Namun, Yesus berkata biarlah orang mati menguburkan kematiannya sendiri, dan pergi berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Dalam Matius (5.21-22), Yesus menjelaskan bahwa jika seseorang membunuh orang lain maka ia pasti berada dalam bahaya penghakiman. Tetapi lebih lanjut dia menjelaskan bahwa menjadi marah pada orang lain tanpa sebab jelas juga akan berada dalam bahaya penghakiman. Dan dalam (Matius 5.20) terkecuali jika kebenaranmu sendiri melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, anda sama sekali tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Tuhan.

Dengan demikian jelaslah bahwa tidaklah cukup mengatakan bahwa dengan dibabtis dan menyatakan diri sebagai Kristiani dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan yang kematiannya di kayu salib sudah pasti akan membawa anda mencapai Surga. Masih terdapat hukum sebab akibat dan aturan-aturan lain yang diajarkan Yesus yang harus dilaksanakan.

Apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak dapat mengikuti aturan standar Yesus sebagaimana yang dituliskan dalam Al-Kitab setelah mereka meninggal? Dalam Matius (13.41-42), Yesus berkata bahwa Tuhan akan mengutus para malaikatnya yang akan berkumpul ke luar segala sesuatu dan menyerang orang-orang yang kejahatan/kebengisa n dan memasukkan mereka ke dalam suatu tungku perapian yang akan menjadi ratapan luar biasa dan mengertakkan gigi.

Jika semua aturan Yesus ini harus diikuti dengan sempurna, beserta dengan semua perintahnya agar semua orang Kristen mencapai surga, tungku perapian yang panas dan membara itu mungkin haruslah lebih besar. Tapi Tuhan seperti apakah yang tega membiarkan mahluknya mendrita selamanya di neraka karena kesalahan singkatnya di dunia? Apa lagi dalam teologi Kristen kehidupan hanya dikatakan sekali, dalam kehidupan satu kali ini seseorang harus sempurna untuk mencapai sorga, atau akan disiksa selamanya di neraka. Apa nilai dari hukuman ini sementara sang jiwa tidak pernah mendapat kesempatan untuk memperbaiki perbuatannya walaupun untuk kesempatan yang kedua kalinya? Kenapa Tuhan menciptakan mahluk hidup yang memang cenderung berbuat salah dan mengirim mereka ke neraka abadi jika tidak mengikuti aturan-aturannya, terutama dalam Al-Kitab dengan tepat? Apakah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan mengancam dan memeberikan teror terhadap mahluknya dengan Neraka abadi? Karena itu konsep Ketuhanan semacam ini perlu dipertanyakan karena hukuman yang diberikan tidak memberikan kesempatan untuk rehabilitasi, tetapi didasarkan oleh sikap kemarahan dan balas dendam. Kenapa Tuhan bisa seperti ini jika memang beliau adalah Yang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang? Kenapa Tuhan menghabiskan waktunya hanya untuk memunculkan tirani kemarahan dan balas dendam? Tentunya Beliau memiliki hal yang lebih baik daripada menyebar teror kemarahan dan tirani. Dan ketika kita lihat dalam konsepsi Veda, Tuhan dengan sifat-sifat- Nya sebagaimana digambarkan dalam kitab-kitab Purana, kita akan menemukan sangat banyak perbedaan dari apa yang diuraikan dalam kitab-kitab Abrahamik dan dengan sifat-sifat- Nya yang sangat mulia sebagaimana yang seharusnya dimiliki oleh yang maha mutlak.

Konsep Ketuhanan dalam Kristen adalah bahawa kita harus takut pada Tuhan. Hal ini ditunjukkan dalam kitab Keluaran (20.5) yang menyatakan Tuhan berkata bahwa Dia adalah Tuhan yang pencemburu. Hanya saja pada kenyataannya seseorang akan memperlihatkan kecemburuannya atau marah jika ia takut kalah, merasa lemah, sedang bersaing dengan orang lain atau tidak mendapatkan sebagaimana yang ia inginkan. Jadi kenapa Tuhan yang merupakan pencipta, penguasa dan pengatur segala sesuatu bisa menjadi pencemburu? Sifat-sifat pencemburu, kegelisahan, rasa tidak aman, marah atau sikap balas dendam adalah sikap yang bisa ditemukan pada kebodohan dan nafsu. Hal seperti ini seharusnya tidak menjamah Tuhan yang maha segalanya.

Dalam Bhagavad-gita (9.18), Sri Krishna berkata bahwa Dia adalah pencipta, dasar dari segala sesuatu, pendukung, tujuan, tempat perlindungan, tuan, dan juga sahabat. Hal ini menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan. Secara alamiah, Dia harus dapat sebagai seorang kawan yang terhormat karena kita merupakan bagian dari energi spiritual-Nya.

Hal yang membuat seakan-akan terdapat kekuatan yang menentang Tuhan, sebagaimana setan yang dilukiskan dalam ajaran agama-agama Abrahamik hanyalah karena ketidaktahuan akan pengetahuan rohani yang sejati. Bagaimana Tuhan yang maha mutlak tidak mampu mengalahkan setan yang merupakan ciptaannya? Kenapa Tuhan sampai hati menguji ciptaannya dan menjebloskan mereka yang tidak kuat godaan ke neraka abadi selamanya? Kenapa Tuhan sibuk akan hal konyol seperti itu? Tidakkah Tuhan Maha Penyayang? Kalau ya, seharusnya Tuhan tidak menciptakan setan yang selalu mengoda manusia menjadi jahat, sehingga dengan demikian semua manusia menjadi baik dan bahagia dalam surga abadi. Kekonyolah dan Kesalahpahaman konsepsi seperti inilah yang harus diluruskan. Tuhan tidak memiliki musuh, beliau menyayangi semua mahluk ciptaannya dan menurunkan kitab suci kepada kita sebagai panduan akan siapa diri kita yang sejati, dimana kebahagiaan yang abadi dan kemana hidup ini harus di arahkan! Veda sendiri melalui jalan bhakti menuntuk kita untuk mengembangkan sikap cinta kasih dan bhakti kepada Tuhan. Anda tidak akan dapat menyayangi dan mencintai Tuhan jika anda takut dengan-Nya, ketakutan dan kasih sayang adalah suatu hal yang bertentangan. Oleh karena itu seseorang yang secara rohani menyayangi dan mencintai Tuhan, tidak akan pernah bisa menerima bahwa Tuhan sebagai sosok yang pemarah, pencemburu dan pendendam sebagaimana yang diuraikan dalam Alkitab maupun ajaran agama-agama Abrahamik lainnya.

Kenapa Tuhan marah dan cemburu pada kita jika memang benar Tuhan telah menciptakan hukum alam yang mengatur segala tingkah laku dan konsekuensi tindakan kita?

Semua mahluk hidup sejatinya adalah Atman/Jiwa yang merupakan bagian dari Tuhan dan diberikan kebebasan untuk merasakan kehidupan di alam material atau tetap di alam rohani. Tuhan sendiri melalui kitab suci sudah menjelaskan bagaiaman keadaan alam material ini, hanya saja sifat Jiwa yang pengen tahu menuntunnya untuk mencoba mengaruhi dunia material. Berkat kasih sayang dan keadilan-Nya, Tuhan memberikan sang jiwa fasilitas kehidupan dan dengan jenis kehidupan yang diinginkannya. Ada yang memilih badan manusia, ada yang memilih badan tumbuhan, binatang bahkan bakteri. Kenapa Jiwa tidak memilih badan manusia/dewa yang posisinya baik? Nah, kita tidak bisa mengatakan mana yang baik dan buruk disini, semuanya tergantung dari mindset anda. Karena anda manusia dan pernah membaca kitab suci, maka anda mungkin mengatakan bahwa manusialah yang paling baik, mungkin malaikat/dewa di sana akan berpikir bahwa merekalah yang paling baik, demikian juga dengan elien atau mahluk hidup lainnya akan berpikir kalau merekalah yang paling unggul. Untuk menjamin keharmonisan 8.400.000 jenis kehidupan di alam material ini, Tuhan telah menetapkan hukum alam yang memberikan punishment atau reward secara adil dan atas cinta kasihnya selalu memberikan kesempatan rehabilitasi untuk setiap kesalahan ciptaannya lewat proses reinkarnasi.


Wednesday, July 8, 2009

PENGENDALIAN DIRI, ETIKA DAN TOLERANSI

Om Swastyastu

isa vasyam idam sarvam
yat kim ca jagatyam jagat
tena tyaktena bhunjita ma
grdhah kasya svid dhanam

Yajurveda XL.1

(Segala sesuatu yang bergerak dan tidak bergerak di alam semesta ini meliputi dan diresapi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hendaknya seseorang mampu mengendalaikan dirinya dan tidak menginginkan milik orang lain)

1. Pendahuluan

Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan pencerminan kehidupan beragama dengan kehidupan sesama baik manusia dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara bahkan pula dalam hubungan internasional antar bangsa-bangsa. Dengan pengendalian diri seseorang mampu hidup berdampingan secara rukun yang tercermin dalam etika atau tata laku sopan santun dalam pergaulan hidup.

Kerukunan hidup akan semakin mantap bila dilandasi dengan toleransi atau penghargaan terhadap perbedaan yang dihadapi, karena perbedaan itu seperti misalnya perbedaan agama yang dianut merupakan kenyataan yang diyakini dan ajaran yang dikandungnya diamalkan oleh pemeluknya. Dengan pengendalian diri yang mantap, seseorang yang tertib dalam berlalu lintas akan berhasil mencapai tujuan dengan selamat, demikian pula dengan etika dan toleransi, seseorang akan mudah bergaul dengan sesamanya walaupun berbeda agamanya. Pandangan hidup akan dapat diwujudkan dan dengan keharmonisan ini. Ketentraman dan kebahagiaan hidup, baik dalam keluarga maupun masyarakat dapat terealisasikan.

Agama Hindu dengan kandungan ajaran tentang pengendalian diri, etika toleransi yang sangat berguna sebagai pedoman dalam membina hubungan yang harmonis tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan Tuhan Yang Maha Esa dan semua Makhluk ciptaan-Nya..


2. Pengendalian diri

Pengendalian diri adalah kemampuan seseorang untuk tidak melakukan yang tidak baik dan tidak patut dilakukan. Untuk dapat mengendalikan diri, seseorang hendaknya mengenal ajaran tentang Viveka atau Vivekajnana. Yang dimaksud dengan Viveka adalah kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, salah dan benar. Yang baik belum tentu benar, sebaiknya yang benar belum tentu baik dan selanjutnya yang dengan pengetahuan Viveka ini seseorang akan dapat mengendalikan dirinya, sebab diantara berbagai makhluk hidup dengan tegas dinyatakan hanya manusialah yang memiliki pengetahuan itu. Oleh karena itu menjelma sebagai manusia disebut sebagai penjelmaan utama bila dibandingkan dengan makhluk lainya :

Manusah sarve bhutesu varttate
vai dubhasubhe asubhesu samavistam
subhesvevakarayet

Ri sakwehning sarva bhuta,

iking wwang juga wenangguma ikang sebha asubha karma,

kunang panentasekena ring asubhakarma juga ikang subha karma,

phala ning dadi wwang

Sarasamuccaya 2

(Di antara semua makhluk, yang hanya dilahirkan sebagai manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk. Leburlah ke dalam perbuatan baik itu menjelma sebagai manusia.)

Di dalam kitab Sarasamuccaya dijelaskan pula bahwa menjelma sebagai manusia adalah kesempatan yang utama dan sangat sulit untuk diperoleh (parama durlabha) dan hidup sebagai manusia dinyakan sangat singkat (ksanikasvabhava) bagaikan kerdipan kilat. Memang bila direnungkan, sesungguhnya manusia hampir sangat jarang untuk merenungkan kembali, untuk apa tujuan penjelmaan kita ini, bagaimana kita seharusnya berbuat di dunia ini, benarkah kita nanti, apakah yang akan kita bahwa dan bagaimanakah kita alam sana dan lain-lain pernyataan akan muncul bagi mereka yang memiliki kepekaan untuk merenungkan kehidupan kembali.

Untuk usaha, ajaran agama Hindu memberikan bimbingan dan tuntunan seseorang berhasil meniti kehidupan di dunia ini termasuk bagaimana dia berperilaku menyingkapi dan mensiasati kehidupan yang dewasa ini sangat dirasakan kecendrungan pada material atau pleasure oriented sebagai dinyatakan dalam kitab-kitab Purana, bahwa era jaman Kali (Kaliyuga) orientasi manusia hanyalah pada materi dan kesenangan, yang tidak akan memberikan kebahagiaan yang sejati. Bila kita hanya mengejar kepuasan materi atau kesenangan duniawi belaka (kepuasan kama), maka penderitaanlah yang akan kita jumpai. Memuaskan Kama semata diibaratkan menyiram api yang sedang berkobar tidak dengan air, melainkan dengan bensin dan akibatnya adalah api semakin membesar yang mengakibatkan kehancuran. Agama Hindu mengamanatkan untuk mewujudkan kedamaian dalam kehidupan ini (peace oriented), karena di balik kedamaian yang sejati (true happines). Kebahagiaan yang sejati (Moksa) bukanlah khayalan, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan di dunia ini (melalui Samadhi) yang disebut dengan Jiwanmukti. Untuk merealisasikan hal ini banyak hal yang dilakukan, terutama dapat mentransformasikan diri kita, meninggalkan kualitas jasmani kita yang muaranya adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia (menurut pandangan Hindu) tidak hanya menekankan pada kualitas jasmani dan keterampilan atau kecerdasan pikiran, melainkan adalah memupuk budi luhur sesuai dengan ajaran Dharma, yang nantinya akan mampu mengantisipasi berbagai tantangan hidup dan mencapai tujuan yang tertinggi yakni bersatunya Atman dengan Brahman yang disebut Moksa yang merupakan kebahagiaan sejati dan abadi (Sukha dan tanpawali sukha)

Sangat banyak kita jumpai dalam ajaran Agama Hindu petunjuk tentang pengendalian diri termasuk pula bagaimana menggunakan Viveka sehingga kita mampu menyikapi perkembangan dunia ini. Ajaran tentang pengendalian diri dan Viveka ini dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda, dalam berbagai kitab Upanisad, Ithiasa dan Purana termasuk pula dalam berbagai kitab Dharmasastra dan Tantra seperti Panca Tan Matra yang disusun oleh Visnu dan lain-lain.


3. Etika

Etika adalah bentuk pengendalian diri di dalam pergaulan hidup bersama. Manusia adalah homo sosius, makhluk berteman. Ia tidak dapat hidup sendirian, ia selalu bersama dengan orang lain. Manusia hanya dapat hidup dengan sebaik-baiknya dan akan mempunyai arti, apabila ia hidup bersama-sama manusia yang lain di dalam masyarakat. Tidak bergaul dengan sesama manusia lainya. Hanya dalam hidup bersama manusia akan dapat berkembangan dengan wajar. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari, bahwa sejak manusia dilahirkan sampai ia mati, selalu memerlukan bantuan orang lain untuk kesempurnaan hidupnya. Bantuan itu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Manusia sangat memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri, pengakuan dan tanggapan-tanggapan emosional yang sangat penting artinya bagi pergaulan dan kelangsungan hidupnya yang sehat. Semua kebutuhannya itu merupakan kebutuhan rohani hanya dapat ia perolah dalam hubungannya dengan manusia dalam masyarakat. Inilah kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak ada seorangpun yang dapat mengingkari hal ini karena bahwa manusia baru dapat disebut manusia dalam hubungannya dengan orang lain dan bukan dalam kesendiriannya.

Dalam kehidupan bersama ini orang dapat mengatur untuk bertingkah laku yang baik. Tidak seseorang yang boleh berbuat sekehendak hatinya. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya (dalam pengertian tidak boleh larut dalam lingkungannya itu) dan tunduk atau patuh terhadap peraturan atau aturan yang berlaku dalam lingkunyanya ini masih dalam frame-frame yang berlaku.

Aturan atau peraturan untuk bertingkah laku yang baik dalam agama Hindu disebut dengan "Sila" yang dalam bahasa Indonesia menjadi Tata Susila. Nama lainya untuk istilah ini adalah Etika. Kata etiket artinya sopan santun dalam pergaulan. Bila itikad beretika masih dalam angan-angan disebut dengan Budi Luhur (Budi baik) dan bila diwujudkan dalam tungkah laku disebut pekerti yang baik.

Bila kita mengamati dengan seksama tujuan dari atau tingkah laku yang baik adalah untuk membina hubungan yang harmonis antar sesama manusia dan dalam ajaran agama Hindu tidak hanya hubungan yang horisontal, tetapi juga hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa dan alam pencipta-Nya. Tata susila dalam ajaran agama Hindu merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar agama Hindu disamping Sradha dan Acara yang bersumber pada kitab suci Veda, oleh karena itu tata Veda dengan susastra Hindu lainya.

Dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia, dapat dikaji dalam tiga tingkatan yaitu :

a. Tingkat pertama semasih dalam bentuk angan-angan niat atau idea
b. Tingkat kedua sesudah berbentuk pekerti, yakni perbuatan nya (telah dilaksankan)
c. Tingkat ketiga adalah akibat yang ditimbulkan oleh pekeri ini. Hasilnya dapat baik atau buruk.

Selanjutnya isi dari angan-angan, niat atau idea itu direalisasikan dalam 4 jenis perbuatan (varaible), yaitu :
a. Tujuannya baik, tetapi cara penyampaiannya tidak baik.
b. Tujuannya tidak baik, tetapi cara penyampaiannya baik
c. Tujuannya tidak baik, tetapi cara penyampaiannya tidak baik.
d. Tujuannya baik, tetapi cara penyampaiannya baik.

Semuanya yang disebut atau buruk kadang-kadang sulit untuk dirumuskan. Dalam kenyataannya ternyata manusia sesungguhnya mengerti atau memahami apa yang disebut baik dan buruk. Berbohong atau mencuri adalah buruk dan tidak benar. Menolong, penuh kasih dan jujur adalah baik. Kesadaran terhadap baik dan buruk, salah dan benar disebut Kesadaran Etis. Namun perlu dipahami apa yang disebut baik itu, tidak selalu benar dan apa yang disebut buruk itu tidaklah selalu salah.

Untuk menentukan mengukur atau membesakan baik, buruk salah dan benar, Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk berpedoman kepada beberapa pramana atau ukuran, antara lain :
a. Desa (tempat), Kala(waktu) dan Patra (keadaan) dan dalam Manavadharmasastra dilengkapi dengan Iccha (tujuan) dan Sakti (Kemampuan untuk mencapai tujuan itu).
b. Pratyaksa (pengamatan), Anumana (analisa) dan Agama (pertimbangan / Informasi yang dapat dipercaya)
c. Sastratah (bersumber pada sastra/ajaran agama) Gurutah (bersumber pada ajaran guru) dan Svatah (bersumber pada analisa dan pengalaman sendiri)

Berdasarkan ukuran atau pertimbangan tersebut seseorang dapat menentukan perbuatan yang patut dan baik untuk dilaksanakan. Untuk dapat menentukan perbuatan itu, seseorang hendaknya mengetahui dan dapat memilih dan untuk itu berbagai pertimbangan sangat diperlukan. Kemampuan untuk mengetahui (Maknanya) dan memilih (yang patut dan baik dilakukan) merupakan pegangan moralitas.

Penilaian moralitas tidaklah dapat diukur dari penampilan luar seseorang demikian pula dalam kitan bertingkah laku yan baik dan benar. Untuk itu ajaranya agama Hindu menuntut kepada umatnya untuk memiliki kepekaan sehingga mampu mendengarkan bisikan Sang Hyang Widi Atma yang bersemayan pada hati setiap orang. Bisikan sang Hyang Atma adalah bisikan hati nurani yang selalu jujur. Nilai pribadi seseorang tidak dapat diukur dengan kekayaan yang dimiliki, kepandaian, kecerdasan atau kebangsawanan yang dimiliki. Perhatikanlah terjemahan sloka Sarasamuccaya berikut :

Meski ia Brahmana yang berusia lanjut, Jika perilakunya tidak susila, tidaklah patut disegani. Walaupun ia seorang Sudra, jika perilakunya berpegang pada Dharma dan kesucian patutlah ia dihormati dan disegani (161)

Tingkah laku yang baik merupakan alat untuk menjaga Dharma dan satra suci. Pikiran yang teguh dan bulat merupakan upaya untuk menjunjungnya, adapaun keindahan paras adalah keberhasilan pemeliharaannya demikian pula kelahiran seseorang, semuanya budi pekerti susila yang menegakkannya (162).

Tingkah laku yang baik merupakan sebab dikenal sujana, demikian walaupun ia tidak memiliki silsilah dari orang-orang, asalkan ia berasusila, akan diketahui pula asal -usulnya (163)

Pengetahuan tenang kitab suci Veda (Catur Veda) dengan enam cabang dan anak cabangnya, kemahiran tentang ajaran filsafat (sastra suci) Samkhya, Purana dan Kelahiran. Yang mulia, semuanya itu tidak akan berpahala bagi orang yang berkelakuan jahat, Akhirnya semua pengetahuan dan kelahiran yang dimilikinya tidak ada artinya (164)

Lagi pula tidak kuasa kaum kerabat dan sanak keluraga memberikan pertolongan, membebaskan diri dari kesedihan hati, begitupun emas segala hak milik Kebangsawanan, sastra dan mantra-mantra serta kekuasaan tidak akan dapat memberi pertolongan, yang dapat menolong hanyalah tingkah laku, oleh karena itu ia sungguh yang dapat melenyapkan kedudukan hati didunia yang lain kelak dikemudian hari (167).

Didalam Agama Hindu kita jumpai banyak ajaran yang menuntun manusia untuk menjadi manusia yang sujana, berbudi luhur dan bertingkah laku yang bersusila, tidak bertentangan dengan moral dan ajaran Dharma.

4. Toleransi

Toleransi artinya penghargaan, yakni memberikan penghargaan terhadap orang lain dalam hal ini yang paling menonjol adalah penghargaan terhadap ajaran agama yang dianut oleh orang lain. Sesungguhnya toleransi tidak hanya berkaitan dengan penganut agama yang lain tetapi juga perlu ditumbuhkan dalam kaitannya dengan kehidupan intern umat beragama, maksudnya bila terdapat perbedaan pemahaman terhadap ajaran agama dalam intern umat seagama, maka penghargaan atau toleransi perlu ditumbuhkembangkan, demikian pula dengan umat yang lain (antar umat beragama) dan antara umat beragama dengan pemerintah.

Kitab suci Veda menegaskan perlunya toleransi itu sebagai perwujudan pengamalan ajaran agama :

a. Bumi ini tempat tinggal seluruh umat manusia, seperi keluarga, semuanya berbicara berbeda-beda dan menganut kepercayaan (agama) yang berbeda-beda, semuanya hendaknya seperti sapi-sapi yang bersatu salam satu kandang sapi kepadanya kesejahteraan akan berlimpah (Atharvaveda XII.I.45)


b. Bumi yang luas ini adalah ibu dan sahabat kita (Atharvaveda IX,10,12)


c. Marilah kita menghormati kemerdekaan (harkat dan martabat) seseorang (Rg veda I.80.1)


d. Wahai umat manusia, Aku memberikan kepadamu sifat-sifat yang ramah dan manis pupuklah keharmonisan dan persaudaraan tanpa permusuhan diantara kamu, seperti halnya seekor induk lembu terhadap anaknya yang baru lahir, demikianlah hendanya kamu menyayangi sesamamu (Atharvaveda III.83.8.)


e. Wahai orang-orang dermawan, marilah kita wujudkan persaudaraan yang sederajat di dalam kandungan ibu pertiwi (Rg Veda VIII.83.8).


f. Wahai umat manusia, maju teruslah kamu, jangan bertikai di antara kamu, engkau adalah pengikut untuk tujuan yang sama, hormatilah yang lebih tua, milikilah pikiran-pikiran luhur dan pusatkan perhatian pada kerja. Ucapkanlah kata-kata manis di antara kamu. Aku jadikan engkau semuanya bersatu dan Aku rakhmati engkau dengan pikiran-pikiran yang mulia (Atharvaveda III.10.5)


Lebih jauh dalam susatra Veda yang lain dinyatakan :

a. Hendaknya setiap orang tidak menyakiti makhluk lain, berpegang pada kebenaran (Dharma), tidak pemarah, melepaskan diri dari ikatan keduniawian, tentram dan tidak suka memfitnah, kasih sayang terhadap semua makhluk, tidak tamak, lemah lembut sopan santun dan teguh iman (Bhagawadgita, XVI.2.)


b. Persembahan kepada dewa-dewa, kepada pandita, kepada guru, kepada orang suci, jujur, kuat menahan hawa nafsu dan tidak menyakiti makhluk lain adalah pantangan diri sendiri di dunia (Bhagavadgita XVII.14.)


c. Seseorang yang tidak menjalankan Dharma atau yang mendapatkan kakayaan dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti hati makhluk lain tidak akan pernah bahagia di dunia ini (Manavadharmasstra IV.170.)


d. Masih banyak ajaran toleransi yang dapat kita jumpai dalam kitab Veda dan susastra Hindu lainya yang perlu kita gali dan diamalakan dalam kehidupan bersama dalam masyarakat berbhineka ini.


5. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Mampukah ajaran agama, khususnya ajaran pengendalian, etika dan toleransi dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia? Untuk menjawab permasalahan ini kita hendaknya dapat memahami kembali fungsi dan peranan agama kehidupan umat manusia, yaitu sebagai :
a. Faktor motivatif yang mendorong manusia meningkatkan kualitas hidupnya .
b. Faktornya kreatif dan innovatif, yang mendorong untuk berkreasi dan mengadakan pembharuan dalam dirinya.
c. Faktor insfiritif yang memberikan inspirasi untuk mengabdi kemanusiaan.
d. Faktor edukatif yang mendidik diri manusia untuk mencapai kedewasaan.
e. Faktor transformatif dan sublimatif yang mampu mengubah dirinya yang tidak baik menjadi baik.

Bila fungsi agama dilaksanakan atau memancar diri manusia, maka dengan sendirinya seseorang akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia atau potensi-potensi yang dimilikinya. Agama tidak hanya mengajarkan manusia untuk mewujudkan kehidupan spiritual di alam baka saja, tatapi di tunut pula kepada umatnya untuk direalisasikan, diamalkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.


Agama Hindu (Khususnya kitab suci Veda) sangat menekankan betapa pentingnya pemeliharaan badan jasmani ini seseorang sebab dengan jasmani sehat dan akan lebih baik melaksanakan Dharma atau Swadharma yang dibebankan kepadanya. Pemeliharaan jasmani dengan jalan berolah raga serta mengonsumsi makanan dan minuman yang menyehatkan, sedang pemeliharaan rohani dengan mengamalkan ajaran agama sebaik-baiknya.

Aritani me sarva atma anibhrstah
Atharvaveda XIX.60.2
(Hendaknya badan dan pikiran kami sehat, babas dari segala penyakit sehingga selalu bangkit untuk meningkatkan diri)

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapatkah kita pahami bahwa jasmani sehat dan pikiran yang sehat pula merupakanan modal dasar untuk meningkatkan kualitas pribadi kita. Meningkatkan kualitas pribadi hendaknya senantiasa diupayakan dan hal ini diamanatkan oleh kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya. Pengamalan ajaran agama bermuara pada pengendalian diri, etika dan toleransi yang pada akhirnya adalah meningkatkan mutu atau kualitas pribadi manusia.


6. Penutup

Pengendalian diri, etika dan toleransi merupakan cerminan atau pancaran dari pengamalan ajaran agam Hindu. Agama tidak akan ada artinya bila tidak diamalkan sebagai mana mestinya. Agama akan besifat verbal atau hanya berupa slogan saja. Bila agama dilaksanakan dengan mantap maka tujuan hidup berupa kesejahteraan dan kebahagiaan akan segera dapat diwujudkan.

Dalam kehidupan bersama dalam masyarakat maka pengendalian diri, etika dan toleransi hendaknya senantiasan ditumbuh kembangkan, dengan demikian keharmonisan sebagai landasan kehidupan yang sejahtera, tentram dan bahagia menjadi kenyataan.


Om Santhi Santhi Santhi Om.


Shri Danu-Bekasi @9 Juli 2009