Saturday, July 20, 2013

JODOH DAN PERNIKAHAN



OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU NAMO SIWA YA.

Akhir-akhir ini telah terindikasi adanya ketidaktahuan atau ketidakmengertian umat tentang jodoh dan pernikahan, sebab telah banyak terjadi pelanggaran bila dilihat dari hukum agama (Hindu), maupun dilihat dari hukum positif. Misalnya semakin banyak muncul gugatan perceraian, semakin banyak adanya kekerasan di dalam rumah tangga, persentase yang cukup tinggi adalah nikah setelah hamil dan sebagainya. Semua permasalahan tersebut sudah merupakan tindakan pelanggaran. Disini tidak akan berbicara tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, karena disini akan lebih fokus kepada munculnya kesadaran dari semua pihak. Sebab antara jodoh dan pernikahan itu merupakan hal yang amat penting untuk diketahui dan dipahami, karena kedua hal tersebut menyangkut masa depan keluarga dan secara sekup yang lebih luas mencakup masa depan bangsa dan negara.

Pada tulisan ini akan diuraikan tentang jodoh dan pernikahan dari persepektif ajaran Hindu (Bali), maka dari itulah reprensinya diambil dari sebuah lontar yang menulis tentang PITUDUH SANG PITARA SAAT UPACARA BALIGIA. Sebab hanya baru di dalam lontar itu ditemui uraian yang sangat dekat dengan jodoh itu sendiri, dan tidak terlepas dari kemungkinan ada juga dalam tulisan yang lainnya, namun saya belum menemuinya, mudah-mudahan nanti bila ditemui tulisan lain lagi tentang jodoh dan pernikahan disana kita akan tambahkan lagi. Untuk sementara ini, disini ditulis berdasarkan atas dasar sumber tadi. Sebab penjelasan seperti ini saya anggap sangat mendesak untuk diketahui oleh saudara-saudara kita.

I. JODOH:
kata jodoh ini mungkin dapat dimaknai atau memiliki pengertian banyak, sehingga kata jodoh disini hanya diperuntukan menjelaskan pertemuan laki perempuan (remaja) yang melangsungkan pernikahan. Di dalam lontar tersebut diatas ditemui kalimat yang menggambarkan perjalanan Rokh di alam sana melewati titi (jembatan) ugal-agil, disaat itu disebutkan ada rokh yang berani lewat disana dan ada juga yang ketakutan, maka yang berani menolong yang ketakutan. 

Setelah mereka lewat dijembatan ugal-agil itu, mereka mengadakan perjanjian, antara lain; Bila nanti mereka dapat kesempatan menjelma kembali, maka disanalah rokh yang dibantu akan menjelma menjadi orang perempuan dan yang menolong akan menjelma menjadi orang laki, disitulah yang perempuan akan membayar jasa yang laki dengan jalan menikah, menyusun rumah tangga sejahtera, dan mengadakan keturunan yang dapat mengabdi terhadap Sang Catur Guru. 

Inilah menurut saya salah satu cikal bakal adanya jodoh itu, maka saya sendiri menganggap jodoh itu merupakan wahyu dari Tuhan yang patut kita jaga dan ayomi secara bersama. Kenapa saya berani mengatakan jodoh itu merupakan wahyu dari Sang Hyang Widhi, karena ada 3 hal yang sangat sulit bahkan boleh dikatakan tidak diketaui oleh manusia di dalam hidupnya, yaitu; 

1. KAPAN HAMIL IBU ITU LAHIR? ini yang belum bisa ditebak secara pasti (jangan bilang operasi) oleh siapapun kecuali oleh Sang Hyang Widhi. 

2. SIAPA JODAH ANAK INI NANTINYA? Juga sulit ditentukan. 

3. KAPAN KAKEK/NENEK YANG SUDAH RENTA SAKIT-SAKITAN ITU MENINGGAL? Juga tidak ada yang tau.

Berdasakan hal itulah saya menyimpulkan bahwa ketiga-tiganya itu merupakan wahyu (pemberian Tuhan). Salah satu diantaranya adalah jodoh itu wahyu Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu, bila jodoh itu sudah ada ditangan kita (sudah nikah) janganlah diperlakukan sekehendak hati, mari dipelihara berdua (mempelai) dengan rasa kasih, sayang, cinta, saling pengertian, mensyukurinya. Rasanya kita akan sangat berdosa bila kita menelantarkan jodoh yang nota bena adalah pemberian Beliau.

Om, Santih, Santih, Santih, Om

( tulisan ini berlanjut/bersambung)

Monday, July 15, 2013

PARA SETAN DEMO KE TUHAN

OM SWASTIASTU

Ada sebuah cerita dari burung berkicau di pagi hari. Ceritanya begini; Disebuah desa di pegunungan yang pemandangannya masih sangat asri, tumbuh-tumbuhannya menghijau menari-nari diterpa angin, udaranya sejuk agak dingin, air sungainya mengalir jernih tanpa sekeping sampah, apalagi sampah plastik. Hidup seorang penekun spiritual. Beliau setiap hari memuja Tuhan mengucapkan terima kasih atas segala kemurahannya, dan mohon ampun atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya, tidak lupa pula Beliau memohon agar alam beserta isinya mendapatkan kebahagiaan.

Pada suatu malam kurang lebih sudah pukul 1 dini hari Beliau bermeditasi, saat meditasinya mencapai puncak, Beliau mendengar suara riuh melalui telinganya yang paling dalam, maka diperhatikan suara itu dan diselusuri secara bathin asal suara tersebut, lalu betapa kagetnya Beliau dalam meditasinya melihat ribuan para setan sedang mengadakan demo. Dari suara yang hiruk pikuk itu dapat didengar oleh Beliau bahwa para setan sedang demo menuju ketempat Tuhan. Ada yang membawa sepanduk beraneka ragam tulisannya, ada yang bertuliskan: " AKU PARA SETAN SANGAT KEBERATAN HARGA DIRIKU DI KOYAK-KOYAK", ada juga bertuliskan; "HENTIKAN SIKAPMU MENGAMBING HITAMKANKU". Dan banyak lagi tulisan yang berbunyi senada.Walaupun begitu banyaknya setan demo, tidak ada yang anarkis, makanya tidak ada perlu pengamanan berlapis, tidak ada kelihatan senjata gas air mata dan sebagainya, sebab demonya setan berjalan sesuai dengan UU dan peraturan yang berlaku.

Singkat cerita, sampailah para setan itu didepan kediaman Tuhan, disana korlapnya berorasi dengan pengeras suara yang telah mereka siapkan, sambil memanggil manggil Tuhan agar menemui mereka. Akhirnya datanglah seorang utusan dari Tuhan untuk membolehkan 5 orang setan sebagai delegasinya menghadap Tuhan ke dalam. Kemudian para delegasi setan yang 5 orang menghadap Tuhan ke dalam. Yang lainnya berorasi diluar dengan sangat tertib. Didalam terjadi dialog antara delegasi Setan dengan Tuhan, begini dialognya; Setan menuntut ke Tuhan: Ya Tuhan kami para setan sangat keberatan bahwa setiap manusia berbuat jahat apakah dia membunuh, memperkosa dan yang lain sejenisnya, bila mereka ditangkap oleh petugas dan diinterograsi mereka mengatakan bahwa saat itu mereka sedang kemasukan setan.

Oleh karena itu kami kaum setan sangat keberatan disebut memasuki alam pikiran manusia, sebab kami para setan telah lama tidak diperbolehkan meninggalkan tempat oleh pimpinan kami sesuai dengan keputusan sidang majelis tertinggi kami para setan, yang berbunyi seperti ini; MULAI SAAT DIPUTUSKAN, PARA SETAN TIDAK BOLEH KEMANA-MANA, TINGGAL DI WILAYAH MASING-MASING, APA LAGI MEMASUKI SIFAT MANUSIA SEBAB MANUSIA TELAH BANYAK DAPAT MENIRU SIFAT KITA. Nah semenjak itulah kami tidak lagi berkeliaran kemana-mana, tinggal di wilayah masing-masing. Kenapa manusia tega mencatut nama baik kami. Itulah yang menjadi tuntutan kami agar Tuhan sebagai penguasa menyikapinya.

Lalu Tuhan pun menjawab dengan tenang; Wahai kau para setan, bukan kamu saja yang dikambing hitamkan oleh manusia, saya juga sering dikambing hitamkan oleh manusia, bila ada banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor dsb, mereka kaum manusia akan mengatakan: INI SEMUA KEHENDAK TUHAN. Padahal saya tidak pernah menghendaki apa-apa dari siapun karena saya sudah cukup. Pada akhirnya dialog itu selesai dengan sebuah kesepakatan, bahwa setan tidak akan mengintervensi pikiran manusia lagi karena manusia telah banyak yang bisa meniru sifat setan. Demikian pula Tuhan tidak akan menghendaki apa-apa, karena semuanya sudah diamanatkan kepada manusia untuk mengatur alam ini beserta isinya untuk menuju kebahagiaan sesama ciptaanNya, melalui wahyunya berupa kitab suci. Akhirnya demo para setan berakhir bubar dengan tertib setelah mendapatkan kesepakatan.

Demikianlah cerita burung dipagi hari yang diamati oleh Beliau yang menekuni spiritual.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Thursday, July 4, 2013

MENDEM ARI-ARI (NGUBUR ARI-ARI)


Om Swastiastu.

Kelanjutan dari tulisan saya tentang pendidikan pranatal yang lalu sekarang saya sambung dengan mendem ari-ari. Apa yang saya tulis disini bersumberkan kepada kitab/lontar Angatyaprana, mungkin para pembaca yang memiliki sumber lain akan mungkin menemui adanya kelainan dari apa yang saya tulis disini. Bila hal itu terjadi maka sepenuhnya saya serahkan kepada para pembaca untuk memilihnya sesuai dengan keinginan sendiri untuk digunakan sebagai landasan. Tulisan ini dibuat untuk membantu saudara kita yang belum menemui sumber yang pasti. Seba acara mendem ari-ari ini sangat penting, sebab ada kaitannya dengan ajaran Catur Sanak (sumber lontar Sundari gading). Semoga apa yang saya tulis ini dapat membantu saudara yang memerlukan.

I. PERSIAPAN SARANA;

Bagi saudara yang sedang memiliki istri hamil tua, maka calon bapak sudah menyiapkan sarana untuk mendem ari-ari, agar nanti tidak kelabakan, antara lain; 
1. Buah kelapa yang sudah tua, pilih yang agak besar satu biji. 
2. Ijuk (dari pohon enau). 
3. Kain putih secukupnya. 
4. Minyak wangi. 
5. Anget-anget (katik cengkeh, jebugarum dsb.). 
6. Lontar tulis. 
7. Madu secukupnya. 
8. Bunga-bungaan yang harum-harum. 
9. air kumkuman. 
10. Batu hitam (batu bulitan sebesar buah kelapa). 
11. Pohon pandan berduri.

II. TATACARA MENDEM ARI-ARI.

Setelah bayi lahir, maka ari-arinya dibawa pulang, sesampainya di rumah lalu si bapak bayi tersebut mencuci ari-ari itu memakai air biasa dan boleh menggunkan sabun sampai bersih (catatan saat membersihkan ari-ari jangan menyentuh ari-ari itu dengan tangan kiri duluan, pakailah tangan kanan, kemudian tangan kiri kerjakan seperti biasa), usahakan saat itu pula pikiran penuh dengan kasih sayang. Setelah bersih lalu dimandikan lagi dengan air kumkuman yang telah tersedia. Kemudian buah kelapa tua yang sebelumnya sudah dipotong (tidak dibelah), tulis kelapa bagian dalamnya yang atasan dengan hurup Bali Ongkara. Masukan ari-ari yang sedah bersih kedalam kelapa, isi madu, wangi-wangian, minyak wangi, anget-anget, dan lontar bertuliskan huruf bali berisi kalimat nunas panugrahan kepada Ibu pertiwi nitip arai-ari, semoga beliau berkenan mengayomi si jabang bayi. Lalu cakupkan kedua belah kelapa yang di potong tadi lalu dibungkus memakai ijuk, kemudian lanjut dibungkus dengan kain putih. Dan seterusnya di pendem di depan Bale Daja (meten). Kalau tidak punya meten, boleh mendem di natar di depan kamar tidur, kalau bayinya perempuan di sebelah kira dari meten, kalau laki disebelah kanan dari meten. Kemudian siram memakai air bekas membersihkan itu, lalu kubur, diatasnya isi batu hitam dan tanamkan pandan berduri. Haturkan sepasang canang berisi dupa, waktu menghaturkan canang itu ( kehadapan Ibu Pertiwi ), lagi memohon agar si bayi mendapat perlindungan dari Beliau.

III. PENUTUP.

Demikianlah tatacara mendem ari-ari menurut tuntuna lontar Angastyaprana. Selamat melakukan, semoga si Bayi pajang umur dan mejadi anak yang suputra. Bila ada hal-hal yang belum dimengerti bisa dikonsultasikan agar mendapat pengertian yang jelas di dalam melaksanakan.

Om Santih, Santih, Santih

Mendidik Anak Dalam Konsep Hindu


Om Swastiastu,

Anak merupakan anugerah. Dalam pandangan Agama Hindu, seorang anak merupakan pewaris sekaligus penyelamat bagi orang tua dan para leluhur. Begitu pentingnya peran dan kedudukan seorang anak, maka setiap keluarga tentu mengharapkan lahirnya seorang anak yang suputra, seorang anak yang berwatak dan berkarakter baik, berbakti kepada orang tua dan leluhur serta taat kepada ajaran agama. Watak dan karakter seorang anak sesungguhnya dapat dibentuk melalui pendidikan. Ibarat kertas putih bersih, maka seperti itulah perumpamaan bagi seorang anak yang baru lahir. warna, corak dan karakternya tergantung dari goresan pendidikan yang diberikan dalam hal ini pendidikan oleh orang tua dan lingkungan.

Dalam konsep Hindu, mendidik seorang anak dimulai semenjak dalam kandungan. Hal ini termuat dalam lontar Semara Reka dan Angastya Prana. Untuk dapat mendidik anak agar menjadi seorang yang suputra, maka terlebih dahulu orang tualah yang harus merubah dirinya menjadi orang tua yang baik. Karena itu dianjurkan dalam satra agar seorang ibu mengandung setelah melalui proses upacara perkawinan. Disamping menghindari pengaruh beban psikis jika hamil sebelum melangsungkan upacara perkawinan, setelah melalui upacara perkawinan maka sanghyang kama ratih dalam diri orang tua telah disucikan sebelum bertemu dan menjadi benih. Hal ini sangatlah penting karena ibarat menanam benih maka benih dan ladang harus dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu untuk mendapat hasil yang baik.

Mendidik anak semasih di dalam kandungan atau yang diistilahkan prenatal, dimulai dari pembenahan pola fikir dan sikap kedua orang tua. Saat mengandung maka kedua orang tua sesungguhnya sedang beryoga untuk mampu mengekang dan menghindari segala sesuatu yang tidak baik agar tidak berpengaruh pada janin. Wanita hamil diharuskan untuk terhindar dari perasaan yang kuat, misalnya marah, sedih, terlalu bergembira, terlebih lagi sampai bertengkar saat hamil karena perasaan tersebut akan mempengaruhi perkembangan dan karakteristik si bayi.

Masa - masa ngidam bagi wanita hamil merupakan sebuah ujian bagi para calon ayah. Banyak para calon ayah yang sering tidak memperhatikan istri hamil yang sedang dalam masa ngidam, dan itu merupakan salah satu pendidikan yang salah. Karena sesungguhnya saat itu si calon bayi sedang menguji keteguhan sang calon ayah untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang yang pantas dan bertanggung jawab untuk dijadikan orang tua. Jika sampai ada calon ayah yang mengabaikan istri pada saat hamil, maka akan lahir seorang anak yang berani kepada orang tua, hal ini seperti termuat dalam lontar Semara Reka dan Angastya Prana.

Masa kehamilan adalah masa yang penting untuk mendidik si calon bayi. Maka dari itu tidak diperbolehkan memarahi wanita hamil, menipu, atau bahkan mengagetkan wanita hamil. Seperti termuat dalam tatwa cerita tentang Ida Bhatara Dewi Uma yang pada waktu beliau hamil sempat dikagetkan olah gajah sehingga saat melahirkan maka lahirlah putera beliau sang ganesha yang berkepala gajah. Cerita ini sesungguhnya menjelaskan kepada kita bahwa seberapapun beratnya kondisi, rasa emosi dan perasaan yang tidak baik lainnya, maka semua itu harus dikendalikan karena seperti yang pedanda jelaskan di atas, masa kehamilan adalah masa beryoga bagi kedua orangtua.

Setelah pendidikan dalam kandungan, maka ada pendidikan setelah bayi lahir atau yang diistilahkan pascanatal. Dalam konsep ajaran Hindu, seorang anak yang baru lahir hingga berusia enam tahun tak ubahnya seperti seorang dewa, maka perlakukanlah dia seperti seorang dewa. Tidak diperbolehkan melakukan kekerasan terhadap anak usia tersebut baik itu berupa kekerasan kata - kata maupun fisik. Pendidikan seorang anak dalam fase seperti dewa telah diterapkan oleh para leluhur kita sejak lampau, oleh karena itu jika kita lihat implementasinya di masyarakat, misalnya tidak ada akan ada orang yang marah jika ada anak kecil mempermaikan kepala kakeknya, atau anak kecil yang bermain di atas bantal tempat tidur.

Ketika si anak sudah menginjak usia enam sampai dua belas tahun maka seorang anak tidak ubahnya seperti seorang raja, dia sudah mulai meminta ini dan itu. Sebisa mungkin orang tua harus menuruti, tentunya dalam batas batas yang wajar. Jika anak agak nakal maka harus dinasehati dengan sabar dan dengan kasih sayang seperti menasihati seorang raja, karena dalam masa ini seorang anak sedang mengembangkan kemampuan otaknya sehingga memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Saat anak sudah berusia dua belas tahun hingga tuju belas tahun maka seorang anak harus mulai diajarkan disiplin. Seorang anak harus mulai diberi tugas dan tanggung jawab. Ajari anak untuk melakukan tugasnya dengan bertanggung jawab. Misalnya diberi tugas menyapu, mengepel, mebanten dan sebagainya. Dalam masa ini orang tua harus bisa menerapkan ajaran Catur Naya Sandhi yaitu sama, beda, dhana dan danda. Kapan orang tua harus berposisi sama dan sejajar dengan anak (sama), kapan harus memposisikan diri berbeda dengan anak yaitu sebagai seorang guru dan pendidik sekaligus pengawas (beda), kapan saatnya orang tua harus memberikan hadiah kepada anak sebagai motivasi bagi si anak (dhana) dan kapan saatnya kita memberikan hukuman kepada anak (danda). Harus dipahami saat – saat yang tepat untuk menjalankan fungsi di atas.

Setelah anak berusia diatas tuju belas tahun, maka orang tua harus bisa memposisikan diri sebagai seorang sahabat bagi anak – anaknya. Saat dewasa seorang anak sudah mulai mengikuti kata hatinya, sehingga orang tua harus mampu memahami kondisi tersebut. Dengan bersikap seperti sahabat bagi si anak, maka akan ada keterbukaan antara orang tua dan anak sehingga orang tua akan lebih mudah mengontrol dan menasehati si anak. Sudah tidak tepat lagi dalam usia tersebut untuk memarahi dan mengekang anak seperti memarahi anak kecil. Hal tersebut justru akan membuat anak semakin jauh dan tertutup dengan orang tua.

Om, Santih, Santih, Santih, Om

PENDIDIKAN PRANATAL LANJUTAN 1


OM SWASTIASTU.

Sehubungan dengan banyaknya teman-teman memohon agar tulisan tentang Pendidikan pranatal dalam agama Hindu agar dilanjutkan, maka saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Selanjutnya saya akan mulai dari hamil setelah berumur 6 bulan saka, pada waktu hamil telah menginjak umur 6 bulan saka maka para Dewata telah lengkap menganugrahi organ tubuh manusia (lontar Angastyaprana), maka calon ayah dan calon ibu sudah menyiapkan diri untuk melakukan upacara magedong-gedongan, cari hari baik dengan cara mohon petunjuk kepada beliau yang mengetahui dan pantas memberikan kita petunjuk, termasuk urutan upacaranya dan banten yang diperlukan.

Bagi sudara yang tidak memungkinkan melakukan upacara yang berkapasitas besar, boleh dilakukan dengan sederhana, misalnya; hanya dengan menghaturkan pejati di sungai/disumur, yang dipuja Dewi Gangga, dan pejati lagi satu kehadapan Bhatara Hyang Guru, di sungai mohon air untuk mandi atau hanya untuk mesirat saja dan banten tataban sesuai kemampuan.

Upacara magedong-gedongan ini mempunyai makna; bersyukur dan berterima kasih kehadapan Tuhan atas segala anugrahnya. Dan mendo'akan janin yang lahir nanti selamat dan sempurna, juga merupakan salah satu unsur pendidikan pranatal kepada janin yang masih di dalam kandungan dengan upacara ini secara rokhani dia nantinya lahir menjadi anak yang taat beragama Hindu dan tidak mudah pindah agama dan merupakan tindak lanjut dari upacara pernikahan kedua calon orang tuanya. (catatan; bagi yang tidak diupacarai megedong-gedongan karena sesuatu hal juga ditekankan mereka sebagai anak yang taat beragama Hindu, karena pernikahan calon orang tuanya melalui upacara agama Hindu karena mereka harus taat beragama Hindu). Hal ini perlu disebar luaskan untuk memberi pengertian kepada anak kita agar mereka tidak gampang pindah agama.

Selanjutkan calon orang tua menunggu kelahiran anaknya, menunggu kelahiran tersebut agar menyiapkan diri untuk belajar dan bertanya tentang tatacara mengubur ari-ari (nanem ari-ari). Tentang tatacara nanem ari-ari akan ditulis khusus, sebab banyak hal yang perlu disiapkan dan dipahami. Disamping itu mengenai ari-ari itu sangatlah penting sebab sangat erat kaitannya dengan ajaran catur sanak (kanda pat). Makanya saudara yang Beragama Hindu seperti di Bali hal ini mendapat perhatian khusus. Ceritanya dapat dibaca di dalam kitab/lontar Sundari Gading, dan kitab/lontar Ampel Gading.

Ada beberapa masalah yang perlu diluruskan tentang pelaksanaan upacara magedong-gedongan yaitu; ada anggapan bahwa upacara magedong-gedongan hanya dilakukan oleh wangsa tertentu, anggapan seperti ini tidak benar sebab upacara magedong-gedongan adalah upacara manusa yadnya yang pertama dan dilakukan terhadap ibu yang hamilnya sudah berumur. Satu lagi ada anggapan upacara ini hanya dilakukan sekali saat hamil pertama, hamil selanjutnya tidak perlu, anggapan inipun masih keliru, sebab setiap hamil semestinya dilakukan upacara ini. Terima kasih atas perhatiannya bila ada pemahaman yang berbeda tentang upacara ini mari kita diskusikan untuk mencari jalan keluar yang baik.

Om Santih, Santih, Santih Om

PENDIDIKAN PRANATAL DALAM AGAMA HINDU


Om Swastiastu.

Bila kita cermati semua agama termasuk semua ajaran yang meyakini Kemaha Kuasaan Tuhan merupakan sebuah pendidikan di dalam meningkatkan kesadaran dan meningkatkan moralitas untuk mencapai kedamaian abadi (Sekala dan Niskala). Untuk itu agama Hindu mengajarkan cara mendidik anak sedini mungkin semasih janin dalam kandungan. Sebab itu merupakan pendidikan yang sangat mendasar yang nantinya bisa menunjang pendidikan yang lain setelah bayi itu lahir. Adapun kitab penuntunnya untuk pendidikan anak sebelum lahir (Pendidikan Pranatal) terdapat pada kitab Angastyaprana dan kitab Smarareka. Di dalam kedua kitab tersebut dinyatakan bahwa mendidik anak itu dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan, bahkan dimulai sejak calon ibu ngidam.

Sebelum mengarah kepada materi tersebut, maka sangat perlu diketahui tahapan ibu hamil menurut kitab itu antara lain;

1. Liwat.Artinya calon ibu tidak kotor kain lagi, berarti itu sudah terjadi pembuahan ( spermatosoit membuahi sel telur ibu ).

2. Mandeg. Artinya; sel telur yang terbuahi sudah menempel di dinding kandungan ibu.

3. Ngidam. artinya pembuahan sudah semakin membesar, sudah terjadi pemecahan sel-sel dalam kandungan.

4. Hamil. artinya sudah terjadi pembentukan kelengkapan organ tubuh.

Pada saat seperti ini si janin sangat tergantung pada ibu tentang; makanannya, nafasnya, bahkan pikirannya, semua itu sangat dipengaruhi oleh kondisi si ibu. Maka dari itulah dimasa-masa seperti ini calon orang tua (calon bapak dan calon ibu) harus berhati-hati dan waspada, misalnya: calon bapak jangan sampai membikin pikiran ibu itu jengkel, marah sakit hati dll. Sedapat mungkin si calon ibu dibuat bahagia, damai sesuai dengan kemampuan kita. Demikian pula calon ibu jangan bermanja-manja, jangan menonton atau membaca cerita horor, cabul, berita mengerikan dan yang sejenisnya. Berusahalah melakukan sesuatu itu yang dapat menyejukan hati. Sebab semuanya ini akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak di kemudian hari.

Demikian secara singkat saya tulis, dan semuanya ini dapat dijabarkan sendiri-sendiri sesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Harapan saya agar semua calon bapak dan calon ibu mengetahui dasar-dasar pendidikan untuk membentuk anak suputra. Bila hal ini dianggap penting oleh para pembaca, maka nanti saya akan lanjutkan lagi sampai bayi itu lahir, bagai mana cara mendidik sesuai tahapan umur menurut petunjuk sastra Hindu.

Terima Kasih atas perhatiannya. Semoga yadnya saya ini dapat diterima dan bermanfaat untuk kita semua.

Sanggah / Merajan

Dari Facebook Ida Pedanda Gede Made Gunung 

Om Swastiastu,

Konsep sanggah / merajan adalah konsep agama hindu yang ada di Bali. Andaikata ingin mengikuti konsep sanggah / merajan seperti Agama Hindu di Bali, minimal ada tiga sanggah yang disebut dengan Tri Lingga yaitu Sanggah Kemulan, Anglurah dan Taksu. Andaikata hal ini tidak memungkinkan, misalnya saja lahan yang kurang atau biaya yang tidak mencukupi maka cukup dibuatkan Padmasari, sesuai dengan keputusan Parisada Hindu di Bali tahun 1999, yang mana jika situasi tidak memungkinkan maka tempat suci bisa hanya terdiri dari Padmasari saja.

Agama hindu adalah agama yang mengayomi dan mengangkat budaya lokal, konsep sanggah Tri Lingga merupakan konsep hindu di bali yang diterapkan oleh Ida Mpu Kuturan, karena di Bali agama sudah demikian menyatu dengan kehidupan sosial, politik, ekonomi masyarakat Bali. Tentu di setiap daerah penerapan Agama Hindu akan berbeda sesuai dengan budaya lokal daerah tersebut, misalnya agama hindu di Kaharingan tidak menggunakan sanggah, begitu juga dengan Agama Hindu di Kalimantan ataupun di India, namun pelaksanaan Agama Hindu tetap mengacu pada nilai - nilai Weda dengan implementasi local genius atau kekayaan lokal.

Mengenai upakara yang dihaturkan bentuk canang di bali juga akan berbeda dengan yang di luar bali, kembali pedanda sampaikan ini karena karakter dan kondisi masyarakat bali yang umumnya berjiwa seni sehingga bentuk canang dan upakara yang lainpun cenderung rumit dan artistik. Jika ingin mengikuti konsep hindu di Bali, bisa menggunakan canang sari dengan alas ceper, duras, porosan dan yang lainya. Namun jika budaya lokal di sana mempunyai bentuk canang yang berbeda itu tidak masalah, selama dipersembahkan atas ketulusan hati.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Wednesday, July 3, 2013

Kewangen dan Penggunaannya


Om Swastiastu.

Oleh karena sangat seringnya digunakan kewangen ini sebagai sarana upacara khusus bagi umat Hindu di Bali dan pada umumnya sekarang di Indonesia, dan kemunculannya juga di setiap upacara agama Hindu, maka sering pula menjadi pertanyaan oleh umat. Keadaan seperti itulah saya sangat berkeinginan untuk menyumbangkan pikiran tentang kwangen itu sendiri dengan harapan semoga melalui sumbangan pikran saya ini dapat menghilangkan kebingungan bagi saudara yang sama sekali belum memahaminya.

PENGERTIAN;
Kewangen itu adalah kata jadian, kata dasarnya adalah WANGI,mendapatkan prefik Ka dan sufik AN, maka menjadi; Ka + wangi +an = ka(e)wangian. i + a = e, menjadi Kewangen. Oleh karena kata dasarnya itu WANGI, yang mana wangi itu identik dengan bau yang disenangi dan bau yang dicintai, mungkin dibutuhkan oleh setiap manusia yang normal (Kewangen), maka itu pula yang menyebabkan kewangen itu disebut dan digunakan sebagai simbul yang dapat mewakili Tuhan dalam pikiran umat. Jadi kesimpulannya Kewangen itu adalah simbul Tuhan juga disebut simbul dari huruf Ongkara (hurup Bali) yang juga disebut simbul Tuhan dalam bentuk huruf.

NAMA, BENTUK, DAN SIMBUL DARI SARANANYA.

1. KOJONG, biasanya dibuat dari daun pisang, dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk kojong. Kojong ini bila kita tekan sampai lempeh maka dia akan berbentuk segi tiga, maka kojong menyimbulkan angka tiga Huruf Bali (lihat huruf Ongkara Bali).

2.PEKIR, dibuat sedemikian rupa menyerupai hiyasan kepala dari tarian jangger (tarian muda-mudi di Bali).dibuat dari daun janur. Bentuknya bisa kelihatan bermacam-macam , itu sangat tergantung dari seninya yang membuat. Ini merupakan simbul dari ULU ARDHA CANDRA dan NADA (tulisan huruf Bali).

3. UANG KEPENG (pipis bolong), bila tidak ada uang kepeng, maka bisa digunakan uang logam, sebab uang kepeng itu yang dipentingkan adalah bentuknya yang bundar, sebagai simbul WINDU (nol). Perlu ditekankan disini jangan menggunakan uang kertas yang diplintir akan mengurangi arti dan makna.

4. POROSAN, ini ditempatkan di dalam kojong tadi hampir tidak kelihatan dari luar. Porosan ini yang terpenting adalah terdiri dari tiga unsur yaitu; daun sirih (daun lain yang wajar digunakan), daun ini yang dicari maknanya adalah warnanya yaitu berwarna Hijau, merupakan simbul dari dewa Wisnu, Huruf Balinya adalah UNGKARA, Kemudian buah sirih yang disisir sedemikian rupa, ini mewakili warna merah, simbul dari Dewa Brahma, huruf Balinya ANGKARA. Selanjutnya unsur yang ketiga adalah kapur sirih warnanya putih sibul dari dewa Iswara (Siwa), Huruf Balinya adalah MANGKARA. Ketiga-tiganya itu dijarit semat atau diikat pakai menang menjadi satu, artinya seperti uraian dibawah ini.
Jadi tiga huruf itu; A.+ U + M = AUM MENJADI ONG ( A dan U kasewitrayang dalam tata bahasa Bali). Maka ONG itu adalah huruf sebagai simbul dari Tuhan.

BUNGA, ini sembul dari rasa cinta dan rasa bhakti.
Kesimpulannya Kewangen (bisa dibaca kwangen) adalah merupakan simbul dari Tuhan dalam bentuk tetandingan (sarana upacara).

PENGGUNAANNYA;
Oleh karena kewangen itu merupakan sarana upacara yang digunakan disetiap upacara terutama saat sembahyang dan sarana ini dianggap suci, maka sering menjadi pertanyaan antara lain; Kenapa kewangen yang suci itu (simbul Tuhan) kok digunakan/ diletakan di mayat dan di caru? Jawabannya; Nah kalau kita berpijak kepada defenisi kewangen sebagai simbul Tuhan, maka Tuhan itu berada dimana-mana dan menyusup kesemua ciptaannya (baca Tattwa Jnana). Maka dari itulah kewangen digunakan disetiap upacara.

CARA MENGGUNAKAN KEWANGEN DISAAT SEMBAHYANG.
Secara kenyataannya di saat sembahyang umat bermacam-macam caranya menggunakan kewangen, terutama posisinya. Ada yang uang kepeng (sebagai mukanya/depannya) ada yang menghadap kedepan, ada yang menghadap kekiri/kekanan, ada pula yang menghadap ke belakang (menghadap ke yang sembahyang/orang). lalu muncul berbagai pertanyaan dan berbagai penafsiran, maka yang benar (menurut lontar paniti gama tirtha pawitra), uang kepengnya menghadap kebelakang/ menghadap ke orang yang sembahyang itu yang benar.

Demikianlah sekilas penjelasan tentang kewangen, mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih atas perhatian saudara.

Om, Santih, Santih, Santih, Om

Banten dan Mesegeh

Om Swastiastu,

Setiap hari umat kita mengatur banten dan masegeh. Itu sangat baik bila tidak merasa dibebani. Kalau merasa dibebani itu sangat jelek. Misalnya saja, apapun yang dilakukan setiap hari begitu-begitu saja akan menimbulkan cepat bosan. Setelah bosan pada saat menghanturkan canang kata-katanya ikut tidak benar. 

Untuk itulah pedanda setuju kalau setiap hari masegeh dan atur canang asalkan tidak membebani. Ikhlaskan. Kalau tidak, boleh ikut sunadigama dimana hanya mengatur canang, banten dan masegeh pada saat rainan seperti kajeng kliwon, purnama, tilem. Nah, apa yang kita harus mengucapkan pada saat mengatur canang yaitu apa yang ada dalam hati.

Sebutkanlah itu karna Tuhan yang maha tahu. Bahasa apapun Tuhan tahu. Jangan terikat dengan mantra-mantra. Kalau artinya mantra tersebut tidak dimengerti lebih baik memakai bahasa yang kita mengerti. Kalau tidak tahu tidak usah memakai mantra dan lebih baik memakai bahasa sendiri karna agama hindu tidak terikat dengan bahasa. Bahasa apa saja boleh dipakai. Kalau orang Bali ada yang memakai bahasa bali. Kalau orang asing mungkin memakai bahasa ingris dan lain sebagainya. Tuhan yang maha tahu. Kalau kita mengikat bahasa kepada agama berarti agama itu agama budaya karna bahasa itu budaya, Maka agama hindu tidak terikat dengan bahasa. Ucapkanlah apa saja yang kamu pikirkan dengan kata-katamu.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Tuesday, July 2, 2013

KENAPA KITA SEMBAHYANG PAKAI BUNGA?

Om Swastiastu,

Kelihatannya sangat sepele sekali, namun masih banyak dikalangan kita umat Hindu belum tahu maknanya sehingga sering menjadi pertanyaan. Dari seringnya muncul pertanyaan tersebutlah dapat ditarik satu kesimpulan bahwa masih banyak umat kita yang belum tahu walaupun mereka telah dari lama menggunakan "BUNGA" sebagai salah satu sarana persembahyangan. Dengan demikianlah saya tertarik untuk menulisnya disini, semoga saudara-saudara mendapatkan sekilas gambaran tentang makna bunga sebagai sarana upacara dan sekaligus sebagai sarana persembahyangan. Saya tahu sudah ada diantara saudara telah tahu dan faham tentang makna bunga, namun tulisan ini hanya bagi saudara yang masih memerlukan.

Berbicara tentang bunga dapat dimaknai dari berbagai sisi, antara lain; dari sisi baunya harum merupakan bau yang paling disenangi, dicintai oleh manusia, sehingga bunga disebut sebagai simbul bhakti (cinta) kehadapan Tuhan. Ada yang memaknai dari sudut warnanya, diidentikan dengan warna dari Nawa Dewata, sehingga bungan disebutkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan melalui manifestasinya. Ada pula yang mengatakan bahwa bunga itu cikal bakal dari buah, buah itu adalah pahala, sehingga bunga disebut sebagai sebuah sarana untuk mempercepat proses kita mendapatkan pahala dari karma kita. Dan lain sebagainya, semuanya itu menurut saya tidak ada yang salah. Kadang-kadang bunga itu digunakan juga oleh saudara kita yang beda agama, sesuai dengan kepentingan mereka. Dengan demikian saya dapatkan satu makna bunga yang jarang bahkan belum ada yang pernah menyinggungnya, melalui sebuah cerita pendek dari guru pembimbing saya sejak saya belum menjadi seorang Pedanda, ceritanya begini;

Ada sebuah keluarga kecil yang terdiri Ayah, Ibu dan dua anak laki. Anak yang tuaan bernama Si Hitam, dan yang kecilan namanya Si Putih. Kedua anak kakak beradik ini karakternya sangat berbeda sehingga mereka diberi nama yang kelihatan berlawanan, yaitu Hitam, dan Putih. Singkat cerita, dirumah itu memang ada benda warisan satu batang pohon bunga mawar merah. Entah bagaimana asal mulanya si Putih sangat sayang pada pohon mawar itu, dipeliharanya, dikasih pupuk, dikasih air, dibersihin dari daun-daunnya yang sudah kering, namun si Hitam sama sekali tidak mau tahu, menganggap adiknya kurang pekerjaan. Bahkan si Hitam kadang kadang entah sengaja atau tidak mematahkan dahan mawar itu, pokoknya si Hitam memperlakukan pohon mawar itu dengan sembarangan.

Lanjut ceritanya, setelah beberpa bulan lalu mawar merah itu berbunga dua kuntum, warnanya sangat menarik, kuntum bunganya besar, baunya wangi, lalu si Putih memetik bungan mawar itu dengan sopan, sebelum memetik dia ngomong sendiri seolah-olah ngomong sama pohon mawar begini dia: MAWAR AKU MINTA BUNGAMU SATU YA, NANTI KAU BERBUNGA LEBIH LEBAT LAGI. Demikian antara lain omongan si Putih, itu juga dia lakukan setiap dia menyiram sambil ngomong sama pohon mawar itu mencurahkan rasa cinta kasih dan bangganya terhadap tumbuh-tumbuhan. Setelah ngomong begitu baru dia memetik bunga mawar itu, diciumnya bunga itu baunya harum sekali.

Kemudian beberapa jam lagi datang si Hitam, melihat bunga mawar yang indah lalu dia memetik tanpa ba, bi, bu, langsung dipetiknya secara kasar, setelah dipetik bunga mawar itu lalu dia cium, dia merasakan bau yang sangat wangi, sama dengan bau yang dicium oleh adiknya tadi. Demikianlah cerita singkat dari guru saya. Lalu Beliau menyimpulkan bahwa bunga itu memberi kita contoh pendidikan yang amat dalam yaitu, walaupun mereka ada yang menyayangi dan ada pula yang membencinya, namun pada saatnya si bunga akan memberikan sesuatu yang sama kepada kedua belah pihak, si bunga tidak membeda-bedakan antara yang menyayangi dengan yang membencinya. Makna seperti inilah yang patut kita tangkap dan kita pelajari untuk merubah sikap kita mengikuti sikap bunga, memang hal ini tidak semudah membalikan telapak tangan, namun kita terus berusaha kearah itu, demikian pesan yang amat dalam disampaikan kepada kita oleh para leluhur kita pesan yang terbungkus rapi, maka kita sekarang perlu membukanya untuk kepentingan kita bersama dijaman seperti ini.

Sebuah teori itu sangat perlu, namun jangan mentok pada teori, teori itu kita harus praktikan sedikit demi sedikit, sehingga lama kelamaan kita tidak akan sadar sudah biasa melakoninya. Demikanlah sebagi tambahan makna bunga yang digunakan oleh umat Hindu di saat berupacara.

Perlu saya tekankan disini bila saudara ingin sembahyang ke Pura, bawalah perlengkapan sembahyang dengan lengkap sesuai keperluan sembahyang.

Jangan baru sampai di pura kita cari bunga, tengok kanan-tengok kiri, kadang-kadang canang di banten teman kita diambil bunganya untuk sembahyang, itu salah, kalau kita ngambil bungan canang dari banten yang belum dihaturkan (sukla), berarti kita merusak banten yang masih sukla itu besar dosanya, kalau kita ngambil bunga dari canang yang sudah dihaturkan (surudan), berarti kita sembahyang memakai bunga bekas. Disamping itu sangat kelihatan sekali kita sembahyang penuh dengan ketidak ikhlasan, karena tidak menyiapkan diri menghadap Tuhan.

Dan satu lagi, kalau saudara sembahyang di pura mana saja, setelah selesai sembahyang tolong ambil bunga, kwangen, dupa bekas dipakai sembahyang, taruh di tong sampah yang tersedia, kalau tidak ada tong sampah disediakan di pura, bawa saja pulang nanti di tong sampah dirumah taruh, agar pura tempat suci kita tetap terjaga kebersihannya.

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM.